KABUPATEN BOGOR, KONSEPNEWS – Berada di tengah kawasan perkebunan teh tak membuat SD Negeri Cikoneng, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, berhenti berkembang. Dukungan pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan justru menjadi salah satu pendorong sekolah tersebut untuk terus berbenah dan memperluas berbagai program pendidikan.
SD Negeri Cikoneng berada di Kampung Cikoneng, Perkebunan Ciliwung, sekitar delapan kilometer dari jalur Puncak–Telaga Warna. Sebagian besar peserta didiknya merupakan anak-anak para pekerja perkebunan teh.
Lokasi yang cukup jauh dari jalur utama Puncak membuat sekolah tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran.
Kepala SD Negeri Cikoneng, Didi Suwardi, mengatakan kondisi sekolah ketika dirinya kembali bertugas di sana masih menghadapi keterbatasan fasilitas.
“Pertama datang ke Cikoneng itu yang paling saya ingat adalah kondisi minimnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Tempat belajar yang kurang representatif, kemudian juga sarana pembelajaran lainnya yang memang sangat-sangat terbatas,” ujar Didi.
Kondisi tersebut perlahan berubah setelah Didi dipercaya menjadi kepala sekolah pada 2023. Berbagai gagasan mulai dikembangkan, mulai dari pembenahan fasilitas hingga memperkuat kolaborasi dengan guru, orang tua, masyarakat, dan sejumlah pihak lainnya.
Didi pun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, khususnya Bupati Bogor Rudy Susmanto, atas perhatian terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tersebut.
“Alhamdulillah satu tahun pertama kami rehab sekolah melalui Sarpras Dinas Kabupaten, juga kelengkapan sarana belajar,” katanya.
Pembenahan fasilitas kemudian berjalan beriringan dengan pengembangan program pendidikan. SD Negeri Cikoneng kini tercatat menjadi salah satu sekolah binaan Gerakan Sekolah Sehat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Dan kami juga menjadi salah satu sekolah binaan Gerakan Sekolah Sehat Regional II Provinsi Jawa Barat,” ungkap Didi.
Tidak hanya berkembang melalui program di tingkat daerah dan nasional, sekolah yang berada di kawasan perkebunan teh tersebut juga mendapat kesempatan mengikuti kegiatan SEAMEO SEPS tingkat Asia Tenggara.
Didi menyebut SD Negeri Cikoneng menjadi salah satu perwakilan sekolah di Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut hingga Agustus 2026.
Capaian itu menjadi catatan tersendiri bagi sekolah yang sebelumnya memiliki keterbatasan fasilitas dan berada cukup jauh dari pusat aktivitas kawasan Puncak.
Bagi Didi, kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas tidak seharusnya menjadi penghalang bagi sebuah sekolah untuk berkembang. Ia pun mendorong para guru untuk menggali berbagai potensi yang ada di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Saya berusaha untuk mengajak teman-teman guru bagaimana menggali seluruh potensi, baik potensi pribadi maupun potensi yang ada di lingkungan masyarakat untuk menjadi sebuah kekuatan besar bagi kemajuan sekolah,” tuturnya.
Selain mengembangkan program pendidikan, Didi juga mendorong budaya literasi di lingkungan sekolah. Ia sendiri aktif menulis dan menghasilkan sejumlah karya sebagai bagian dari pengembangan kompetensi.
Menurutnya, upaya tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa sekolah yang berada di lokasi yang jauh dari pusat kota tetap memiliki kesempatan untuk berkembang dan menghasilkan berbagai capaian.
“Saya hanya ingin menunjukkan bahwa di sekolah-sekolah yang dikatakan kecil pun kita bisa untuk berkembang lebih baik,” katanya.
Ke depan, Didi berharap SD Negeri Cikoneng dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Kecamatan Cisarua. Ia menilai predikat sekolah unggulan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga kemampuan dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Unggulan bukan berarti harus serba unggul apa pun, tetapi barangkali bisa menjadi sebuah contoh bagi teman-teman pengelola sekolah lainnya apa yang bisa dikembangkan di sekolah Ibu dan Bapak itu sendiri,” pungkasnya. san/*





