Soroti Neoliberalisasi Kampus, PPUI Sebut UI Belum Ramah Pekerja

by
foto dok. ppui
foto dok. ppui

KOTA DEPOK, KONSEPNEWS – Momentum May Day 2026 menjadi titik refleksi kritis bagi Paguyuban Pekerja Universitas Indonesia (PPUI) terhadap arah pengelolaan kampus Universitas Indonesia. Mereka menilai, praktik ketenagakerjaan di lingkungan akademik masih menyisakan persoalan struktural yang belum terselesaikan.

PPUI secara terbuka mengkritik kecenderungan neoliberalisasi di sektor pendidikan tinggi. Menurut mereka, orientasi pasar yang semakin kuat telah mengubah wajah kampus menjadi lebih korporatis, dengan dampak langsung pada fleksibilitas tenaga kerja dan peningkatan beban kerja.

Dosen disebut menghadapi tekanan besar untuk terus produktif dalam publikasi ilmiah, sementara tenaga kependidikan dibebani tugas administratif yang semakin kompleks. Kondisi ini dinilai tidak seimbang dengan sistem penghargaan dan perlindungan kerja yang memadai.

“Kalau kampus hanya mengejar output tanpa memperhatikan kesejahteraan pekerja, maka yang terjadi adalah ketimpangan dalam sistem kerja itu sendiri,” demikian pandangan yang disampaikan PPUI dalam pernyataannya.

Selain itu, PPUI menyoroti ketiadaan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai celah serius dalam sistem ketenagakerjaan kampus. Tanpa PKB, pekerja dinilai tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menghadapi kebijakan institusi.

Mereka pun menuntut adanya pengakuan penuh terhadap hak berserikat sebagai bagian dari prinsip demokrasi di lingkungan akademik. Hal ini dianggap penting untuk menciptakan relasi kerja yang lebih setara dan transparan.

Dalam tuntutannya, PPUI juga menekankan pentingnya standar upah yang adil serta mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas. Semua itu diharapkan dapat diakomodasi melalui pembentukan PKB yang komprehensif.

Aksi May Day yang akan digelar di Senayan Park diharapkan menjadi simbol perlawanan sekaligus ajakan solidaritas bagi pekerja kampus lainnya di Indonesia.

PPUI menutup pernyataannya dengan pesan tegas: universitas tidak cukup hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi contoh nyata dalam praktik keadilan sosial dan ketenagakerjaan. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.