MEDAN, KONSEPNEWS – Bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumut sejak 24 November 2025 terus meluas. Hingga Jumat (28/11), dilaporkan telah mencapai 20 kabupaten/kota. Empat daerah Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, dan Medan menjadi wilayah terdampak paling parah.
Banjir dan longsor dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari, menyebabkan sungai meluap, tanah longsor, serta pohon tumbang di berbagai titik. Kondisi ini memaksa banyak warga mengungsi dan ribuan rumah serta infrastruktur rusak.
Menurut data gabungan, terjadi ratusan insiden bencana di seluruh provinsi termasuk 59 titik longsor, 21 lokasi banjir, 4 kejadian pohon tumbang, dan 2 puting beliung.
Polda dan tim SAR melaporkan belasan korban meninggal dunia dan sejumlah orang hilang. Satu laporan menyebut 24 orang tewas dan 5 masih hilang. Selain itu, puluhan lainnya luka-luka, dan puluhan bangunan hancur atau rusak berat.
Di antara efek lain akses jalan sebagian putus, jembatan rusak, dan komunikasi terganggu di berbagai wilayah terdampak memperburuk proses evakuasi dan penanganan darurat.
Beberapa kabupaten segera menyatakan status tanggap darurat. Polda Sumut mengerahkan ratusan personel termasuk Satbrimob dan unit Samapta bersama tim SAR dan BPBD untuk evakuasi, pencarian korban hilang, membuka akses jalan, dan distribusi bantuan
Pemerintah daerah juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung.
Sejak beberapa hari terakhir, BMKG memperingatkan bahwa sejumlah wilayah di Sumatera masih berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang kondisi yang bisa memperparah bencana seperti banjir bandang, longsor, dan puting beliung.
Otoritas meminta masyarakat untuk selalu waspada, terutama yang tinggal di dataran rendah, kampung dekat sungai, atau wilayah rawan longsor. rpaf







