Eno Suratno Hidupkan Main-Main di Cipete Lewat Diplomasi Musik Komunitas

by
foto dok. i wayan bagiartana
foto dok. i wayan bagiartana

JAKARTA, KONSEPNEWS – Setelah menempuh 32 volume pertunjukan, Main-Main di Cipete kini menjelma menjadi jembatan lintas budaya antara musisi Indonesia dan Asia Tenggara. Tak sekadar ruang pertunjukan, acara yang digagas oleh Eno Suratno Wongsodimedjo ini telah membuka pintu kolaborasi lintas negara dengan menghadirkan penampil dari Malaysia dan kota besar di Indonesia.

Berbasis di Casatopia Cafe, Jakarta Selatan, acara ini sejak awal memegang prinsip inklusivitas dan keberagaman genre. Mulai dari pop, folk, hingga eksperimental, semua mendapat ruang untuk didengar. “Kami tidak memilih genre, kami memilih kejujuran,” ujar Eno.

Semangat keterbukaan inilah yang membuat Main-Main di Cipete digemari musisi lintas latar. Kolaborasi lintas negara pun lahir dari panggung sederhana ini, membuktikan bahwa musik independen dapat melampaui batas geografis.

Dengan dukungan komunitas dan media, acara ini tumbuh organik tanpa sponsor besar. Justru dari keterbatasan itu lahir kehangatan dan solidaritas antar pelaku seni. Para musisi merasa memiliki panggung ini sebagai rumah kedua.

Kini, menjelang ulang tahunnya yang pertama pada 24 November 2025, Main-Main di Cipete berkomitmen memperluas jaringan kreatif ke tingkat regional, membuka peluang bagi brand dan institusi untuk terlibat.

“Musik adalah bahasa universal, dan Cipete kini jadi salah satu titik simpulnya,” tambah Eno.

Para penonton pun menyambutnya sebagai ruang kebersamaan yang autentik, tempat mereka bisa menemukan suara baru yang jujur dan manusiawi.

Main-Main di Cipete bukan sekadar perayaan musik—ia adalah perayaan keberagaman Asia Tenggara yang berpadu di satu panggung kecil. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.