Ericsson Mobility Report Ungkap Peta Awal Adopsi Global 6G

by
foto ilustrasi dok. ericsson
foto ilustrasi dok. ericsson

JAKARTA, KONSEPNEWS – Gelombang inovasi jaringan generasi berikutnya mulai terasa setelah Ericsson Mobility Report (EMR) November 2025 memetakan gambaran awal perjalanan menuju era 6G. Meski teknologi ini masih dalam fase pengembangan, laporan tersebut menunjukkan bahwa dunia semakin dekat menuju transformasi telekomunikasi terbesar setelah kehadiran 5G, dengan potensi adopsi mencapai 180 juta pelanggan pada akhir 2031.

Dalam laporan setebal 36 halaman itu, para peneliti EMR memproyeksikan bahwa peluncuran komersial pertama 6G akan dimulai di pasar digital paling maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, India, dan negara-negara Gulf Cooperation Council. Pola pertumbuhan ini diprediksi mengikuti siklus adopsi generasi seluler sebelumnya, dengan gelombang awal dipimpin oleh operator dengan kesiapan infrastruktur dan spektrum paling matang.

Eropa diperkirakan memulai adopsi sekitar satu tahun lebih lambat dibanding kawasan lain, kondisi yang berbeda dari era 5G ketika beberapa negara Eropa menjadi pelopor. Perlambatan ini terutama dipengaruhi lambatnya penerapan 5G Standalone di wilayah tersebut. Namun, meski sedikit tertinggal, kawasan Eropa diprediksi tetap menjadi pasar penting bagi adopsi 6G tahap menengah.

Di sisi lain, fondasi ekosistem 5G yang kuat terus dibangun untuk menyambut era baru tersebut. EMR memproyeksikan bahwa pada akhir 2031, jumlah pengguna 5G global akan menembus 6,4 miliar pelanggan, atau dua pertiga dari seluruh langganan seluler dunia. Di antara angka tersebut, 4,1 miliar diperkirakan sudah menggunakan jaringan 5G SA, menjadi pondasi yang memungkinkan transisi lancar menuju 6G.

Sementara dunia mempersiapkan 6G, 2025 tetap menjadi tahun dominasi 5G dengan proyeksi 2,9 miliar pelanggan hingga akhir tahun. Angka itu mencerminkan pertumbuhan 600 juta pelanggan hanya dalam satu tahun. Selain itu, cakupan 5G global juga meningkat signifikan dengan tambahan 400 juta orang yang kini berada dalam jangkauan jaringan tersebut. Secara keseluruhan, 5G diprediksi mencakup 50 persen populasi dunia di luar Tiongkok daratan pada akhir 2025.

EMR juga menyoroti pertumbuhan eksponensial trafik data yang mengalami peningkatan 20 persen dari 2024 ke 2025, terutama disumbang oleh Tiongkok dan India. Dengan laju pertumbuhan rata-rata 16 persen per tahun hingga 2031, jaringan 5G akan memikul beban besar sebagai tulang punggung konektivitas digital global. Pada 2031, diperkirakan 83 persen trafik data seluler akan berjalan melalui jaringan 5G.

Sebagai salah satu pendorong utama transformasi digital rumah tangga, layanan Fixed Wireless Access (FWA) juga menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. EMR memperkirakan 1,4 miliar orang akan mengakses broadband FWA pada 2031, dengan 90 persen di antaranya ditopang oleh 5G. Hingga kini, tercatat 159 operator telah menawarkan layanan FWA berbasis 5G, naik dari 43 persen menjadi 54 persen penyedia layanan yang mengadopsi paket berbasis kecepatan.

Isu penting lainnya yang disorot dalam laporan adalah kesiapan industri untuk memonetisasi potensi baru jaringan generasi mendatang. Studi kasus yang ditampilkan—mulai dari modernisasi IT oleh Softbank, tailored digital experience dari Singtel, hingga penguatan operasi melalui 5G dalam ajang olahraga SailGP—menunjukkan bahwa transformasi industri berbasis konektivitas semakin matang menjelang era 6G.

Dengan seluruh momentum tersebut, EMR November 2025 menegaskan bahwa dunia kini berada pada pintu gerbang revolusi konektivitas baru. Meskipun perjalanan menuju adopsi 6G masih panjang, fondasi masa depan telekomunikasi global telah terbentuk dengan kuat, dan setiap langkah 5G hari ini menjadi batu loncatan bagi lompatan teknologi terbesar dekade mendatang. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.