Festival Tenun Iban Sadap, Gerakan Budaya dan Lingkungan

by
foto dok. endo segadok
foto dok. endo segadok

JAKARTA, KONSEPNEWS – Magareta Mala menjelaskan bahwa aktivitas menenun secara langsung mendorong masyarakat untuk melindungi tanaman pewarna dan wilayah adat. Kehilangan wilayah adat berarti hilangnya sumber bahan baku sekaligus terputusnya tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur.

Pandangan serupa disampaikan Herkulanus Sutomo dari AMAN Kapuas Hulu yang menegaskan bahwa tradisi menenun tidak bisa dipisahkan dari perjuangan menjaga wilayah adat. Menurutnya, pengakuan dan perlindungan negara terhadap masyarakat adat menjadi faktor penting agar pengetahuan leluhur tetap hidup.

Di Desa Sadap, rumah panjang menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya. Di ruang bersama yang disebut ruai, perempuan dari berbagai generasi menenun bersama, berbagi cerita, dan saling memotivasi. Aktivitas menenun bukan sekadar kerja individual, melainkan praktik kolektif yang memperkuat ikatan sosial.

Menariknya, regenerasi penenun masih terus berjalan. Sejumlah anak muda, seperti Yosefa Kiki Nayah Sari, memilih meneruskan tradisi menenun di sela kesibukan mereka. Dorongan melihat ibu dan nenek menenun menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mencintai warisan budaya mereka.

Bagi Yosefa, menenun adalah bagian dari keseharian yang memberi rasa kebersamaan. Menenun bersama di ruai menghadirkan semangat kolektif, bukan persaingan yang menekan, melainkan motivasi untuk terus berkarya dan belajar.

Melalui Festival Tenun Iban Sadap 2025, masyarakat adat ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya dan alam adalah satu kesatuan. Tenun bukan hanya kain, melainkan memori, doa, dan masa depan yang dirajut bersama oleh komunitas Dayak Iban Sadap. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.