JAKARTA, KONSEPNEWS – Stigma yang menyebut bahwa jazz adalah musik “berat” dan eksklusif tampaknya mulai runtuh. Setidaknya, itu yang terlihat di kawasan Sarinah, Thamrin, saat ribuan penonton yang didominasi generasi muda, memadati gelaran musik “Jazz Meets Pop” dalam rangka International Jazz Day 2026.
Digagas oleh Pop Asia bersama Nayasta, konser ini bukan sekadar perayaan, melainkan upaya serius “membumikan” jazz ke ruang publik, secara harfiah.
Bertempat di Anjungan Sarinah, acara yang berlangsung gratis pada 30 April 2026 sejak pukul 16.00 hingga 22.30 WIB itu menjadi magnet bagi sekitar 2.000 hingga 3.000 penonton lintas generasi. Format terbuka dan lokasi strategis membuat jazz tak lagi terasa jauh dari keseharian.
Konsep yang diusung cukup berani: mengawinkan kompleksitas jazz dengan kedekatan musik pop. Hasilnya, lagu-lagu populer dihadirkan dalam balutan aransemen baru yang lebih “jazzy”, namun tetap mudah dinikmati telinga awam.
Sejumlah nama tampil mengisi panggung, mulai dari Barry Likumahuwa, 3 Composers, Monita Tahalea, Adikara, hingga Ardhito Pramono yang berkolaborasi dengan talenta muda Alonzo Brata.
Sementara itu, Pamungkas didapuk sebagai penutup dengan membawakan lagu terbarunya, “Berapa Kali Kita Akan Saling Memaafkan”.
Direktur Nayasta, Mariam Kartikatresni, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan tanpa tujuan.
“Jazz selama ini punya kesan eksklusif. Kami ingin mengeluarkannya dari zona itu. Lewat ‘Jazz Meets Pop’, kami mencoba menciptakan regenerasi pendengar dengan cara yang lebih organik,” ujarnya.
Lebih dari sekadar konser, “Jazz Meets Pop” menjadi sinyal bahwa batas antar-genre kian cair. Dan jazz, yang dulu dianggap “kelas berat”, kini menemukan jalannya menuju audiens yang lebih luas.
Ke depan, kolaborasi Nayasta dan Pop Asia ini diharapkan tak berhenti sebagai perayaan sesaat. Keduanya menargetkan “Jazz Meets Pop” dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang berkontribusi pada pertumbuhan industri kreatif nasional. ***






