In Memoriam Ria Irawan, Si Multitalenta yang Selalu Ceria

by

Konsepnews.com – Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Aktris Ria Irawan meninggal dunia, Senin (6/1/), sekitar pukul 4.40 WIB. Seperti diketahui, putri pasangan aktor Bambang dan Ade Irawan ini mengidap penyakit kanker sejak 2004 lalu. Selepas Zuhur, Senin (6/1), jenazah almarhumah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Ria sempat menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh. Namun, ternyata sel kanker kembali muncul dan menjalar ke paru-paru hingga otak. Jenazah aktris kelahiran Jakarta, 24 Juli 1969 ini dimandikan di RSCM dan dibawa ke rumah duka Jalan Anggrek Lestari Blok N nomor 11, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, pada bulan November lalu, Ria Irawan pernah juga dilarikan ke IGD RSCM menjalani rawat inap karena kondisi fisiknya yang kian menurun. Selama menjalani pengobatan, Ria kerap membagikan perjuangannya melawan penyakit tersebut ke media sosialnya.

Jenazah almarhumah Ria Irawan di rumah duka. (Foto-foto: Istimewa)

Sebelum diketahui mengidap penyakit kanker, sebagai aktris Ria Irawan terbilang aktif di dunia hiburan. Sejak usia sekitar 4 tahun, tahun 1973, putri bungsu pasangan Bambang Irawan dan Ade Irawan ini telah menapakkan kakinya di dunia akting.

Tak heran, sebab Ria tumbuh di lingkungan perfilman. Ayahnya yang seorang aktor dan sutradara juga memiliki perusahaan film Agora. Ria pun tertarik dengan dunia perfilman sejak masih kecil.

Ria menjadi figuran dalam film “Sopir Taxi” (1973) di usianya empat tahun, lewat film yang dibintangi oleh Bambang Hermanto dan Dien Novita itu. Lalu Ria kembali sebagai figuran dalam film “Belas Kasih”.

Kemudian Ria juga bermain dalam film “Fajar Menyingsing” (1975) bersama Erwin Gutawa, Chicha Koeswoyo (1976), disusul film “Siulan Rahasia” (1977), “Istriku Sayang Istriku Malang” (1977), “Nakalnya Anak-Anak” (1980).

Akting Ria Irawan mulai banyak mendapat pujian banyak orang saat ia berlakon di film “Kembang Kertas” (1984). Lalu lewat perannya di film “Bila Saatnya Tiba” (1985), Ria mendapat nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 1986 sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

Setelah itu Ria berhasil memenangkan Piala Citra lewat film “Selamat Tinggal Jeanette” (1987) sebagai Pemeran pendukung wanita Terbaik di FFI tahun 1988. Menariknya lagi, di FFI 2006 pun, Ria sempat kembali mendapat nominasi kategori Aktris Pendukung Terbaik lewat film “Berbagi Suami” (2006).

Tak cukup cuma berakting, Ria juga menjajal kemampuan olah vokalnya sebagai penyanyi. Ria mendapat kesempatan untuk rekaman dan ikut serta dalam album keroyokan bersama kelompok yang diberi nama Japras, yang terdiri dari Ully Artha, Debby Cintia Dewi, Wieke Widowati, Rini S Bono, Nurul Arifin, Ita Mustafa, Ani Kusuma, Eva Arnaz, dan Rima Melati. Album ini sempat meledak dan laris di pasaran.

Ria juga menelurkan dua album dangdut bersama Rano Karno, “Hiasan Mimpi dan Sorga Dunia”, serta album pop “Setangkai Anggrek Bulan” dan “Di Antara Hatiku Hatimu”. Ria juga pernah membentuk grup trio bersama Nurul Arifin dan Ita Mustafa.

Tak cukup menjadi penyanyi, Ria pun menjadi produser untuk albumnya yang berjudul “Untuk Kamu” bekerja sama dengan Deddy Dhukun. Ria juga membuat album duet dengan Melissa, penyanyi Malaysia.

Bukan hanya itu saja, Ria pernah juga menjajal profesi fotogafi dan penyutradaraan videoklip. Ria pernah menggarap klip Anggun C Sasmi serta penyanyi lainnya. Kemampuan fotografi Ria semakin meningkat setelah diarahkan oleh fotografer Ken Sanjaya dan Drigo L Tobing.

Ria juga pernah berkolaborasi dengan Jay Subijakto, yang saat itu menjadi kekasihnya, serta Rizal Mantovani yang juga sempat menjadi kekasihnya.

Ria pernah menetap di Milan. Ria mengambil kuliah desain grafis. Selama di perantauan, Ria beberapa kali mudik dan sempat membintangi film “Kuldesak”. Tahun 1996, Ria memutuskan kembali ke Indonesia. Namun niat itu berubah kala transit di Singapura. Ria pun memutuskan tinggal sementara di sana.

Setelah enam bulan, Ria baru benar-benar kembali ke Indonesia. Beberapa judul sinetron pun dibintanginya antara lain, “Cintailah Daku”, “Debu Tertiup Angin”, “Melompati Angin”, “Bidadari yang Terluka”, dan “Canting”.

Ria kemudian kembali ke layar lebar lewat film “Biola Tak Berdawai”. Berkat perannya sebagai Renjani, Ria meraih The Best Actress dalam ajang Festival Film Asia Pasific di Iran pada 2003. Sayangnya, tahun 2005, Ria sempat terjerat kasus narkoba.

Ria ditangkap bersama pengunjung diskotik Crown yang dinyatakan positif pemakai narkoba. Bagusnya, aparat kepolisian sulit menyeret Ria ke pengadilan lantaran tak cukup memiliki alat bukti.

Kepergian Ria Irawan untuk selamanya tentu suatu kehilangan di ranah hiburan Tanah Air. Sejumlah rekan-rekan artis sangat merasa kehilangan sosoknya yang dikenal riang dan ceria. Padahal, sebelumnya rekan dan sahabatnya sempat gembira kala ia dinyatakan sembuh dari penyakitnya.

Yang pasti, Ria Irawan adalah sosok artis multitalenta Tanah Air, yang keras berjuang dan tak putus semangat untuk melawan penyakit kanker, hingga ajal menjemput. Selamat jalan Ria Irawan. ic