Jangan Biarkan PWI Di-take over: Peneliti Wanti-wanti Bahaya Buzzer Masuk Organisasi Wartawan

by

JAKARTA, KONSEPNEWS – Sejarah kelam perpecahan di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) seolah menjadi “hantu lama” yang menghantui Kongres PWI 2025. Peneliti sejarah dari Merdeka Institute, Arief Gunawan, mengingatkan para wartawan agar berhati-hati, sebab perpecahan dan dualisme kepemimpinan dapat membuka celah bagi pihak luar, terutama pemerintah, untuk ikut campur.

Arief Gunawan menjelaskan, perpecahan PWI di masa lalu, tepatnya pada Kongres XIV di Palembang tahun 1970, dipicu oleh perbedaan sikap politik antara Rosihan Anwar dan BM Diah. Peristiwa tersebut bahkan berujung pada intervensi pemerintah melalui Operasi Khusus (Opsus) di era Ali Moertopo. “Saat itu, pemerintah melalui Operasi Khusus (Opsus) jaman Ali Moertopo ikut mengobok-obok PWI,” ungkap Arief.

Melihat kondisi saat ini, Arief khawatir sejarah akan terulang. Ia mengimbau PWI untuk menyelesaikan masalah internalnya secara mandiri dan tidak memberikan kesempatan bagi pihak luar untuk mendikte jalannya organisasi. Arief secara terang-terangan menyebut potensi bahaya jika posisi ketua umum PWI malah jatuh ke tangan “buzzer ternak Mulyono” yang di-drop dari atas. “Waspada mereka menjalar ke PWI,” tegasnya.

Menurut Arief, jati diri PWI dan pers nasional adalah pengabdian (vocatio) dan perjuangan, bukan sekadar mencari dan menumpuk kekayaan. Arief berharap Kongres PWI 2025 dapat menjadi momentum untuk kembali ke semangat patriotik seperti yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pers nasional di era 1950-an, yang berani bersilat lidah dengan penguasa. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.