JAKARTA, KONSEPNEWS – Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 kembali menjadi ruang penting bagi para penulis untuk membedah bagaimana bahasa bekerja dalam membentuk relasi kuasa. Dalam forum Menenun Tanah Air Kesetaraan di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (15/11/2025), sejumlah penulis menyoroti bahwa istilah yang dianggap sepele oleh publik justru menyimpan sejarah panjang diskriminasi dan bias sosial. Bahasa yang dianggap modern atau praktis ternyata dapat menghidupkan kembali trauma minoritas.
Penulis fiksi Cyntha Hariadi menyoroti fenomena istilah “Cindo” dan “Chindo” yang belakangan digemari Generasi Z. Ia menilai istilah itu bukan hanya ringkas, melainkan mengandung keputusan politis yang berkelindan dengan sejarah panjang rasisme terhadap keturunan Tionghoa. Popularitasnya tak sebanding dengan sensitivitasnya, sebab banyak percakapan publik masih memunculkan nada sinis yang menyudutkan.
Cyntha menilai bahwa memilih istilah Cina-Indonesia atau Chinese-Indonesian bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal untuk siapa identitas itu ditampilkan. Ketika orientasinya lebih ditujukan pada pandangan luar negeri, ada kemungkinan pengalaman riil sebagai warga negara Indonesia terabaikan. Hal ini ia lihat sebagai bentuk “menjauh” dari sejarah sendiri, yang seharusnya diakui agar tidak terus berulang.
Dalam diskusi tersebut ia juga menegaskan bahwa viralitas istilah Cindo bukanlah bentuk apresiasi, melainkan sindiran yang memperkuat stereotipe soal kecinaan. Kata yang tampak ringan ini membawa warisan panjang prasangka, sehingga penggunaannya memerlukan kesadaran historis agar tidak terjebak pada kekerasan simbolik.
Pembahasan meluas ketika para penulis menyinggung istilah lain yang juga sarat persoalan: sebutan untuk komunitas disabilitas. Berbagai istilah seperti “sekolah luar biasa”, “special school”, hingga “difabel” menunjukkan ketidakkonsistenan negara dalam menetapkan pilihan bahasa yang manusiawi. Definisi di Kamus Besar Bahasa Indonesia pun belum selaras dengan pandangan komunitas, mencerminkan kurangnya dialog antara pemerintah dan masyarakat.
Muhammad Khambali menegaskan bahwa alih-alih memperdebatkan istilah mana yang benar, lebih penting memastikan bahwa kelompok yang disasar merasa nyaman dengan penyebutan tersebut. Bahasa seharusnya hadir sebagai ruang inklusi, bukan instrumen yang mengulang luka sosial. Ia mengajak publik untuk memahami bahwa kata membawa dampak psikologis dan sosial yang tak bisa diremehkan.
Sementara itu, penyair kwir Kristal Firdaus menceritakan pengalaman pribadinya terkait pelabelan identitas. Meski ia merasa aman menyatakan jati dirinya, istilah kwir yang disematkan masyarakat membuatnya kerap tak dianggap utuh. Ia menggambarkan dirinya sebagai sosok yang “hampir”—diakui namun tetap dipandang sebagai sesuatu yang lain. Pengalaman itu menunjukkan bagaimana kata dapat menciptakan jarak emosional sekaligus isolasi sosial.
Kristal menegaskan bahwa menghapus stigma membutuhkan proses belajar ulang, membaca ulang, dan mendengarkan pengalaman komunitas secara terbuka. Bagi dirinya, bahasa tak hanya alat komunikasi, tetapi juga medan perjuangan untuk membongkar stereotipe. Melalui JILF 2025, ia berharap publik menyadari bahwa perubahan bahasa merupakan bagian penting dari perjuangan kesetaraan dan representasi. san/*







