JAKARTA, KONSEPNEWS – Senin pagi (15/9/2025) menjadi hari penting bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Di hadapan perwakilan kementerian, lembaga, dan asosiasi industri, mereka mendeklarasikan Kick Off Aksi Bersama Pencegahan dan Penanganan Rantai Pasok Bahan Berbahaya. Di balik suasana formal, terasa ada kegelisahan yang sama: keinginan kuat melindungi masyarakat dari ancaman yang kerap tersembunyi di balik label obat atau kemasan makanan.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyebut pasar obat dan makanan pada 2025 diprediksi mencapai Rp4.674 triliun, setara 8,7 persen PDB. Angka itu seharusnya menjadi peluang emas, bukan ladang subur bagi pelaku usaha nakal. “Selama bahan berbahaya bisa diakses dengan mudah, ancaman kesehatan tetap besar,” tegasnya.
Tubagus Ade Hidayat, Deputi Penindakan BPOM, menambahkan data konkret. Sepanjang 2024, mereka menangani ratusan perkara dengan nilai ekonomi triliunan rupiah. Dari kosmetik bermerkuri hingga obat terlarang, kasus-kasus ini tak hanya soal pelanggaran hukum, tapi juga merenggut kepercayaan publik. “Formalin, tramadol, hingga hidrokinon masih saja ditemukan. Ini alarm keras bagi kita semua,” jelasnya.
Kisah tragis 2022 menjadi pengingat bersama. Kala itu, obat sirup berbahaya menyebabkan gangguan ginjal akut pada 251 anak. Luka itu masih membekas, terutama bagi keluarga yang kehilangan. Momentum ini membuat semua pihak sadar bahwa perlindungan harus dilakukan dari hulu, bukan sekadar menunggu masalah di hilir.
Aksi bersama ini pun melibatkan berbagai pihak. Dari Kementerian Perdagangan, Kemenkomdig, Bea Cukai, KLHK, hingga Bareskrim Polri, semuanya turun tangan. Tidak ketinggalan asosiasi industri seperti GPFI dan IdEA, yang menyadari bahwa kesehatan konsumen adalah modal utama keberlangsungan bisnis.
Moga Simatupang dari Kemendag menyoroti persoalan klasik: sebagian pelaku usaha menghalalkan jalan pintas. Dengan memakai bahan berbahaya, mereka menekan biaya produksi tapi menjerumuskan masyarakat pada risiko kesehatan. “Kolaborasi lintas sektor adalah jawabannya,” katanya.
Sementara Alexander Sabar dari Kemenkomdig mengingatkan bahaya yang lebih modern. Dunia digital kini menjadi jalur distribusi baru. Dari Oktober 2024 hingga September 2025, tercatat lebih dari 11.000 konten negatif, dengan ratusan di antaranya terkait bahan berbahaya. “Internet bisa jadi pasar besar, tapi juga jebakan berbahaya,” ucapnya.
Dengan dibentuknya Satgas gabungan, aksi ini diharapkan bukan sekadar formalitas. Ada harapan besar agar masyarakat bisa lebih terlindungi, industri lebih sehat, dan negara tidak terus-menerus kehilangan generasi hanya karena ulah segelintir orang yang mengabaikan keselamatan. san/*





