JAKARTA, KONSEPNEWS – Di kedalaman hutan Papua Barat, sebuah kisah pemberdayaan dan inovasi tengah terukir. Sekelompok perempuan adat, dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, berjuang untuk mengubah nasib komunitas mereka melalui buah pala. Dipimpin oleh sosok inspiratif Mama Siti, mereka tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mentransformasi pala menjadi komoditas bernilai tinggi yang kini menarik perhatian industri parfum global.
Mama Siti, seorang petani pala sekaligus penggerak koperasi perempuan adat, menjelaskan bahwa pohon pala telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Desa Pangwadar, Fakfak. Dengan pembagian kerja yang jelas, para perempuan mengambil peran penting dalam pengolahan buah pala, mulai dari pembersihan hingga penjemuran, sementara kaum pria bertugas memanen buah dari ketinggian pohon.
“Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang. Untuk pengolahannya, sejauh ini sudah ada 118 wanita yang membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari”, ungkap Mama Siti.
Bagi masyarakat adat Papua Barat, pohon pala memiliki makna filosofis yang mendalam. Dianggap sebagai “penjelmaan perempuan”, pohon pala tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga dihormati melalui berbagai tradisi, termasuk ritual unik “wewowo” sebelum panen, yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Namun, keterbatasan harga jual dan siklus panen pala yang hanya dua kali setahun seringkali menjadi kendala bagi kesejahteraan petani. Kondisi ini mendorong munculnya inisiatif Wewowo Lestari yang digagas oleh Kaleka, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah pala dan melestarikan lingkungan melalui edukasi dan pelatihan pengolahan yang lebih modern dan efisien.
Kaleka, melalui pendampingan intensif, memperkenalkan teknologi pengeringan solar dryer dan standar operasional produksi yang baik, berhasil meningkatkan pendapatan petani pala hingga 40%. Langkah inovatif ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan industri parfum dunia.
Kerja sama strategis dengan laboratorium AFDN Prancis membuka jalan bagi penelitian mendalam terhadap potensi pala Papua sebagai bahan baku parfum mewah. Hasilnya sangat menggembirakan, dengan ditemukannya cara untuk meningkatkan oil extraction rate pala secara signifikan, menjadikannya kandidat kuat untuk produk parfum kelas atas.
Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan perekonomian petani melalui Koperasi Mery Tora Qpohi, tetapi juga memberikan insentif untuk pelestarian hutan pala. Pemanfaatan seluruh bagian pala, termasuk kulit dan biji, menjadi langkah inovatif dalam mengurangi limbah dan menciptakan produk turunan bernilai ekonomi seperti sirup dan minyak atsiri.
Inisiatif Wewowo Lestari menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal, inovasi berkelanjutan, dan kolaborasi yang tepat dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat adat dan lingkungan. Dengan visi jangka panjang untuk menjadikan Papua Barat sebagai sentra komoditas berkelanjutan bernilai tinggi, harapan baru kini tumbuh di tengah hutan pala yang lestari. san/*





