Perempuan, Film, dan Keberanian Melawan Kekerasan

by
foto dok. forwan
foto dok. forwan

JAKARTA, KONSEPNEWS – Perempuan sebagai subjek cerita dan agen perubahan dalam perfilman Indonesia menjadi benang merah diskusi “Perempuan Hebat di Dunia Film dan Musik” yang digelar FORWAN di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Jakarta. Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan industri kreatif tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan yang berdaya dan berpendidikan.

Aktris muda Vinessa Inez membagikan pengalamannya menghadapi dinamika dunia kerja perfilman yang penuh tekanan. Ia menilai sikap profesional dan kesabaran menjadi modal utama untuk bertahan, termasuk ketika harus bekerja dengan orang-orang yang berbeda secara karakter maupun pandangan.

Dalam forum tersebut, Vinessa juga memperkenalkan film terbarunya berjudul Dalam Sujudku yang dijadwalkan tayang awal 2026. Film ini mengangkat isu pernikahan jarak jauh, perselingkuhan, dan refleksi keimanan, dengan tokoh Aisyah yang digambarkan sebagai perempuan sabar, berpendidikan, dan kuat.

“Aisyah itu seperti malaikat tak bersayap bagi keluarganya,” ujar Vinessa. Ia menegaskan bahwa kesabaran adalah hasil latihan panjang dan pengalaman hidup, bukan sesuatu yang hadir secara instan.

Isu perlindungan perempuan turut mencuat dalam sesi diskusi. Vinessa menyinggung proyek film lain berjudul Yang Terluka yang mengangkat keberanian perempuan melawan kekerasan seksual, termasuk dalam relasi rumah tangga. “Tubuh kita adalah hak kita, dan sudah ada hukum yang melindungi itu,” tegasnya.

Pandangan struktural disampaikan oleh Komisioner LSF, Titin Setiawati. Ia menilai film sebagai cermin masyarakat, di mana maraknya tema perselingkuhan atau kekerasan mencerminkan realitas sosial yang sedang berlangsung.

“Dulu perempuan sering ditempatkan sebagai warga kelas dua atau sekadar pemanis. Sekarang sudah ada perubahan, lebih banyak film perempuan-sentris dan sineas perempuan,” kata Titin, seraya menyinggung karya seperti Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.

Menurut Titin, tidak ada definisi tunggal tentang ibu atau perempuan ideal. Yang terpenting adalah perempuan memiliki pegangan berupa pendidikan, keterampilan, dan kemandirian agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Menutup diskusi, Titin mendorong mahasiswa untuk aktif membangun jejaring melalui komunitas kampus, magang di rumah produksi, atau lembaga perfilman. Diskusi ini menegaskan pesan kuat bahwa perempuan bukan sekadar objek cerita, melainkan penggerak utama perubahan di layar dan kehidupan nyata. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.