Perempuan Pancasilais dan Ketahanan Keluarga

by

Oleh: Inggar Saputra

Konsepnews.com – Salah satu kelebihan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah potensi akal (pikiran), perasaan (emosional) dan religiusitas (spiritual). Akal membawa manusia berfikir bagaimana mengubah kehidupannya dengan kecerdasan pengetahuan untuk meningkatkan derajat kehidupannya.

Kemampuan akal ditunjang emosionalitas, sebuah perasaan untuk memahami diri sendiri dan orang lain sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan kehidupannya.

Semua terasa lengkap di bawah tuntunan agama yang mengajak manusia merefleksikan hubungan spiritualitasnya baik kepada alam, sesama makhluk hidup dan Tuhan sebagai pencipta dan pengatur takdir hidupnya.

Konteks perempuan diberikan potensi Tuhan hal yang sama dengan lelaki tetapi memiliki beberapa perbedaan fundamental. Terlepas dari perbedaan yang ada, perempuan berpotensi meningkatkan kemampuan akal dengan senantiasa belajar dan mencintai diri dengan meningkatkan kualitas pendidikannya.

Tentu pendidikan yang dimaknai tidak terbatas formalitas sekolah, sebab perempuan dapat meningkatkan ilmunya dengan cara yang informal dengan pendidikan keluarga, serta pendidikan nonformal melalui keterampilan khusus.

Dalam beberapa hal, kemampuan hasil pendidikan formal, informal dan nonformal dapat menunjang kehidupannya saat harus memainkan peran sebagai sosok penting istri dan ibu dalam keluarga yang akan dijalani dalam kehidupannya kelak.

Hubungan dengan ketahanan keluarga, perempuan sejatinya sosok yang akan memperkuat sendi bangunan keluarga. Membangun kehidupan keluarga yang sukses bagi seorang perempuan dapat mengacu kepada nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Mengapa harus Pancasila? Ini mengingat Pancasila adalah fondasi instrumental, fundamental dan operasional yang bersifat universal dan sesuai dengan kepribadian manusia Indonesia.

Jadi sangat layak bagi perempuan Indonesia membangun ketahanan keluarga mengacu kepada nilai universal dalam Pancasila.

Sebuah keluarga yang sukses dapat dimulai dari peran penting perempuan mengenali dan mengembangkan Pancasila secara teori dan praktek dalam keluarganya.

Di era digital yang semakin kuatnya pengaruh teknologi, sisi lain ada pandemi Covid-19 yang belum selesai kita dihadapkan kondisi anak yang mengalami learning loss karena harus belajar di rumah. Suami yang bekerja juga harus mengalami kendala yang tidak mudah dengan bekerja dari rumah.

Di titik ini, perempuan harus mampu menguatkan suami dan anaknya dalam membangun suksesnya ketahanan dalam keluarga.

Manusia yang sudah selesai dengan dirinya da keluarganya cenderung akan mudah beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Jika sudah mampu membentuk ketahanan keluarga, maka perempuan akan berusaha membentuk nilai kemanusiaan dengan berperan dalam kehidupan lingkungan sekitarnya.

Dalam suasana pandemi Covid-19, kesediaan berkorban dengan membantu masyarakat di sekitarnya yang menjalani isolasi mandiri dan mendukung mereka yang sedang diuji penyakit covid-19 untuk mampu melewati ujian tersebut menjadi cara adaptasi terbaik untuk kehidupan yang lebih baik bagi lingkungannya.

Ini sekaligus bagaimana cerminan jiwa humanis hadir dalam kehidupan sosial-budaya perempuan sesuai amanat sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Tidak kalah pentingnya, perempuan dapat menjadi penggerak utama dalam menciptakan spirit gotong royong dalam kehidupan masyarakat. Kondisi di era pandemi yang serba sulit jelas membutuhkan peran serta perempuan dalam menggalang solidaritas sosial.

Dengan kelembutan sikap, keluwesan pergaulan dan kemudahan sosialisasi dengan orang lain, perempuan dapat menjadi perekat bagi kehidupan di masyarakat.

Jika semangat perempuan yang mampu bergotong royong di masyarakat dengan kemampuan terbaiknya dimaksimalkan, maka akan lahir semangat keadilan kepada sesama dan lebih jauh menjangkau partisipasi sosial budaya perempuan dalam skala lebih luas di Indonesia.