Konsepnews.com – Jelang Peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni mendatang, Pancasila justru kembali diuji melalui aksi rusuh massa yang ditunggangi oleh paham radikalisme pada 22 Mei silam, terkait hasil final pemilihan umum.
Peristiwa yang amat disayangkan tersebut, sekaligus tantangan bagi negara berideologi Pancasila. Untuk itu perlu upaya untuk mengembalikan falsafah negara agar kembali mengakar kehidupan masyarakat.
Masalah ini dibahas dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9, menggelar diskusi “Kita Indonesia, Kita Pancasila : Upaya Mengadang Hoaks dan Radikalisme, di Gedung Serbaguna Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (28/5).
Diskusi ini menghadirkan para narasumber: Sekretaris Deputi VI Bidang Kesbang Kemenko Polhukam Brigjen Pol Mamboyng dan Kasubdit Kontra Propaganda, Direktorat Pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Kolonel Sujatmiko. Hadir pula Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono.
Menurut Sujatmiko, radikalisme yang terjadi dalam kerusuhan 22 Mei terjadi karena kurangnya rasa kesatuan. Norma yang tertulis dalam Pancasila sudah tercoreng oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
“Kaitannya erat sekali, permasalahan radikalisme dan terorisme yang terjadi di Indonesia. Penyalahgunaan agama menjadikan radikal dan terorisme jadi penyebab perpecahan masyarakat,” imbuh Sujatmiko.
BNPT bekerjasama dengan Menkopolhukam berupaya untuk mengembalikan nilai-nilai Pancasila agar tidak terjadi lagi perpecahan dalam masyarakat.
“Faham (radikalisme dan terorisme) inilah yang harus kita luruskan. Kita perlu bersatu, berkreasi dan menyatukan masyarakat lagi. Mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat,” harap Sujatmiko
Sementara itu, Haryono menekankan sudah saatnya internalisasi nilai-nilai Pancasila tidak lagi memakai pola lama melainkan dengan pendekatan budaya. Yakni mengubah mindset masyarakat untuk mengamalkan Pancasila adalah dengan cara simultan dan terus menerus.
“Dengan membuat contoh-contoh kebajikan dan pelopor nilai-nilai Pancasila agar menjadi inspirasi bagi kemajuan prestasi bangsa,” jelas Kepala BPIP.
Haryono menambahkan bahwa pola mensosialisasikan Pancasila ke kaum milenial juga harus menarik dan memberikan harapan. Memberikan mereka inspirasi agar bisa meraih prestasi bangsa.
“Karena di tengah era disrupsi Revolusi Industri 4.0, hanya bagi kalangan cerdas memenangkan persaingan namun bagi yang mampu melakukan kolaborasi atau jejaring luas,” ujar Hariyono. ts







