BANDUNG BARAT, KONSEPNEWS – Salah satu bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Mussahabah Difable di Kampung Bojong Mareme, Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, ambruk akibat lapuk dimakan usia dan serangan rayap. Peristiwa ini menambah beban berat bagi pengurus ponpes yang selama ini menampung puluhan santri yatim piatu, difabel, dan dhuafa tanpa pungutan biaya.
Kondisi ponpes yang roboh meninggalkan ruangan penuh puing dan menyisakan kekhawatiran soal keselamatan para santri. Aktivitas belajar terpaksa dipindahkan ke tempat seadanya, dengan anak-anak difabel dan yatim belajar berdesakan tanpa fasilitas memadai. Situasi ini semakin menyoroti rapuhnya sarana pendidikan di pelosok desa yang kurang mendapat perhatian pemerintah.
Ponpes Mussahabah sejak awal berdiri memang diperuntukkan bagi anak-anak difabel. Namun dalam perjalanannya, pengurus membuka pintu selebar-lebarnya untuk anak-anak kurang mampu lain agar bisa belajar tanpa dipungut biaya. Keruntuhan bangunan menjadi ancaman besar terhadap keberlangsungan misi sosial tersebut.
Pimpinan ponpes, Ustad Iwan Taufik, menyebut bangunan yang ambruk sudah lama rapuh. “Kami sadar bangunannya tidak kuat lagi, tapi karena keterbatasan dana, kami hanya bisa merawat sebisanya. Alhamdulillah, ada kepedulian masyarakat dan donatur yang mulai datang membantu,” ujarnya.
Salah satu bentuk kepedulian datang dari Yayasan Peduli Anak Indonesia (Yapena) yang dipimpin aktris senior Erna Santoso. Bersama timnya, Erna membawa bahan bangunan seperti semen, pasir, dan peralatan cor untuk membantu renovasi. Meski bantuan ini belum mencukupi kebutuhan keseluruhan, pengurus ponpes mengaku terbantu dan termotivasi.
Erna Santoso menegaskan bahwa bantuan ini hanya langkah kecil untuk mendukung keberlangsungan ponpes. Ia berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk menolong, sebab kondisi bangunan saat ini sangat tidak layak digunakan sebagai ruang belajar anak-anak yatim dan difabel.
Keruntuhan bangunan Ponpes Mussahabah Difable menjadi simbol rapuhnya dukungan infrastruktur pendidikan nonformal di pedesaan. Tanpa renovasi menyeluruh, ponpes berisiko kehilangan fungsinya sebagai rumah belajar dan tempat tinggal bagi anak-anak yang membutuhkan. Perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat luas menjadi sangat mendesak.
Di balik puing-puing yang berserakan, semangat para santri tetap bertahan. Mereka terus belajar meski di ruang darurat. Namun yang lebih penting adalah memastikan bangunan ponpes bisa segera berdiri kokoh kembali, agar pendidikan bagi anak-anak yatim, difabel, dan dhuafa di Bandung Barat tidak ikut runtuh bersama tembok yang ambruk. san/*





