Gerakan Iklim dari Komunitas Pesisir Indonesia Menguat, Anak Muda Dorong Transformasi Energi di COP30

by
foto dok. gawirea
foto dok. gawirea

JAKARTA, KONSEPNEWS – Prediksi bahwa 2025 menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah membuat suara komunitas pesisir semakin relevan dalam percakapan iklim dunia. Di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Ambon hingga pesisir-pesisir kecil di timur Nusantara, perubahan iklim mengubah ritme hidup masyarakat. Permukaan laut naik, cuaca tak stabil, dan hasil tangkapan menurun membuat ribuan keluarga nelayan merasakan tekanan ekonomi. Kondisi itu menjadi latar perjalanan Icheiko Ramadhanty, aktivis muda yang kini membawa pengalaman akar rumput tersebut ke panggung terbesar isu iklim global, COP30 di Brasil.

Keterlibatan Icheiko bersama GAWIREA (Girls and Women in Renewable Energy Academy) telah memperkuat gerakan energi bersih di komunitas paling terdampak. Pengalamannya bertahun-tahun berinteraksi dengan perempuan pesisir, remaja, dan keluarga nelayan menjadi dasar kuat dalam menyuarakan bahwa kebijakan energi ramah lingkungan harus berpihak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia menyebut bahwa perempuan pesisir menjadi kelompok paling rentan dan paling terdampak, namun justru merupakan bagian penting dari solusi.

Dengan menjadi satu dari 16 pemimpin muda Selatan Global yang difasilitasi Life of Pachamama, Icheiko memanfaatkan COP30 untuk membawa tuntutan yang lebih konkret: negara-negara kaya harus membayar tanggung jawab historis mereka melalui pendanaan iklim yang adil, transparan, dan dapat diakses oleh negara-negara berkembang. Tuntutan itu tercermin jelas dalam Deklarasi Pemuda Selatan Global yang kemudian disampaikan langsung di forum dunia tersebut.

Selain menuntut pendanaan bebas utang, deklarasi itu menekankan keterlibatan anak muda dalam seluruh proses pengambilan keputusan. Pelibatan itu dianggap penting karena anak muda saat ini bukan hanya pewaris bumi, tetapi juga penggerak adaptasi dan mitigasi di tingkat komunitas. Di sektor energi, misalnya, banyak proyek percontohan yang digagas alumni program Net Zero Heroes GAWIREA telah berhasil dimulai—dari panel surya, konservasi mangrove, hingga pengolahan sampah terpadu.

Berkaca dari pengalamannya turun langsung ke desa pesisir, Icheiko menyoroti ketimpangan besar dalam akses energi dan teknologi. Di banyak daerah terpencil, masyarakat masih bergantung pada generator berbahan bakar fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Sementara itu, kota-kota besar tengah membicarakan kendaraan listrik dan infrastruktur energi modern. Ketimpangan ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa transisi energi tidak boleh hanya menguntungkan kota besar, tetapi harus menjangkau masyarakat akar rumput.

Dukungan terhadap suara anak muda juga datang dari Juan David Amaya, Direktur Eksekutif Life of Pachamama, yang menegaskan bahwa negara-negara Selatan harus memiliki posisi politik yang lebih kuat dalam perjanjian iklim global. Selama ini, negara-negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin sering dianggap sebagai korban krisis iklim, padahal mereka memiliki kapasitas besar dalam menggerakkan perubahan. COP30 menjadi momentum bagi generasi muda untuk menegaskan hal tersebut.

Setelah COP30 berakhir, Icheiko menekankan pentingnya menjaga semangat gerakan pemuda agar tidak berhenti hanya di ruang konferensi. Baginya, masa depan gerakan iklim berada di komunitas: desa pesisir, kelompok perempuan, sekolah, organisasi lokal, hingga kolaborasi lintas sektor. Aksi sederhana seperti konservasi mangrove, efisiensi energi rumah tangga, hingga edukasi emisi dapat membentuk rantai perubahan yang lebih besar. Kekuatan gerakan itu, kata Icheiko, akan menentukan arah transisi energi Indonesia dalam satu dekade ke depan.

Ia berharap agar ke depan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal bisa bekerja lebih harmonis dalam menciptakan ekosistem yang memperkuat energi terbarukan, ekonomi biru, dan ketahanan iklim. Dengan memastikan ruang yang setara dalam pengambilan keputusan, ia percaya negara-negara Selatan—termasuk Indonesia—dapat menjadi pusat solusi global menghadapi krisis iklim. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.