JAKARTA, KONSEPNEWS – Reuni Akbar Ikan Terbang yang digelar pada 5 Desember 2025 di Ballroom Twin Plaza Hotel Jakarta berhasil menjadi perayaan hangat bagi para alumni Indosiar dari berbagai generasi. Acara yang menyatukan kembali para mantan karyawan lintas departemen ini menjadi bukti bahwa ikatan keluarga besar Indosiar masih begitu kuat meski hari-hari studio dan produksi telah lama berlalu.
Suasana reuni terasa hidup sejak para alumni mulai berdatangan dari departemen Produksi, ART, News, Marketing, Finance, Traffic, Pasca Produksi, Studio, MCR, EFP, Teknik, Corporate Secretary hingga Peduli Kasih. Hadir pula para alumni AFI, Kondang In, mantan juri program hiburan, serta artis yang pernah memperkaya layar kaca Indonesia. Masing-masing membawa cerita, pengalaman, dan kenangan yang seolah menghidupkan kembali masa-masa emas pertelevisian nasional.
Dalam sambutannya, ketua panitia Atoek Faturahman menekankan nilai solidaritas yang selalu menjadi napas utama keluarga besar Ikan Terbang. “Kantor itu bukan hanya tempat bekerja, tapi rumah kedua. Di sana kami tumbuh dan membangun persaudaraan yang sampai hari ini tetap hidup,” ungkapnya. Kalimat tersebut mengalir sebagai pengingat bahwa Indosiar bukan hanya soal pekerjaan, tetapi perjalanan hidup.
Nostalgia pun merayap saat para alumni mengenang program-program legendaris yang dulu mereka tangani. Dari AFI yang melahirkan banyak musisi, Gebyar BCA yang sarat euforia, Kuis Siapa Berani, Tersanjung, Tembang Kenangan, Patroli, hingga Saras 008 dan Lupus, semuanya menjadi jejak perjalanan yang tak hanya membentuk layar kaca tetapi juga karier banyak orang. “Saya bangga pernah jadi bagian dari karya monumental itu,” tegas Cosmas dari departemen ART.
Kini para alumni telah menyebar di berbagai sektor, dari pertelevisian hingga industri kreatif seperti film, konsultan media, periklanan, pendidikan, hingga rumah produksi. Beragamnya profesi tersebut justru menambah nilai reuni karena memberikan ruang inspirasi antargenerasi yang memperkaya koneksi profesional mereka.
Tak ketinggalan, Elvi Zubay menjadi sorotan dengan kegembiraannya bisa kembali menghadiri acara yang mempertemukan dirinya dengan orang-orang yang ikut membentuk perjalanan kariernya. “Saya kembali merasakan suasana awal mula dikenal sebagai penyanyi dangdut di Indosiar,” ungkapnya. Kenangan yang muncul baginya adalah bukti bahwa televisi pernah menjadi ruang tumbuh bagi banyak talenta Indonesia.
Hans Utama membagikan nostalgia lucu mengenai rambut gondrongnya saat pertama kali bekerja. Permintaan HRD agar ia mencukur rambut menjadi pengalaman yang kini justru ia kenang sebagai cerita khas masa awal bekerja. “Setelah panjang lagi, nggak pernah ditegur. Mungkin sudah paham dengan seniman,” katanya disambut tawa hangat.
Reuni Akbar Ikan Terbang akhirnya menjadi lebih dari sekadar ajang temu kangen. Ia menjadi ruang afirmasi bahwa keluarga besar Indosiar adalah bagian penting dari sejarah pertelevisian Indonesia, sekaligus ruang inspirasi untuk terus menjaga semangat berkarya yang “terbang tinggi” sebagaimana filosofi ikon ikan terbang itu sendiri. san/*





