KABUPATEN SIGI, KONSEPNEWS – Usaha desa Lana Tumbavani di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berhasil membuktikan bahwa pemulihan lingkungan dapat melahirkan produk berdaya saing global. Berawal dari penanaman sereh wangi untuk mengatasi lahan rusak akibat banjir, kini minyak atsiri hasil olahan warga telah menarik minat pembeli dari Malaysia, Nepal hingga Amerika Serikat.
Produksi minyak esensial dilakukan secara alami tanpa campuran bahan sintetis. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi, hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak murni sehingga kualitas menjadi prioritas utama dibandingkan kuantitas.
Selain minyak atsiri, Lana Tumbavani juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti minyak pijat, sabun herbal berbahan daun kelor, lilin berbasis lilin lebah, hingga parfum padat.
Pendampingan yang dilakukan Gampiri Interaksi melalui program GIAT 2.0 membantu BUMDes Pulu memperkuat tata kelola usaha, strategi pemasaran, hingga kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.
Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, menegaskan bahwa usaha tersebut dibangun dengan prinsip ekonomi restoratif.
“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” kata Nedya.
Keberhasilan Lana Tumbavani menjadi contoh bahwa produk lokal yang lahir dari proses pemulihan lingkungan mampu memiliki nilai tambah sekaligus bersaing di pasar internasional tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan. san/*





