JAKARTA, KONSEPNEWS – Aksi damai di Kota Tua Jakarta berubah menjadi pertunjukan hiburan penuh energi ketika UMKM Konveksi Sinergi ADV Nusantara menghadirkan rangkaian pentas seni sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang melarang peredaran pakaian bekas impor. Alih-alih membawa megafon dan spanduk besar, mereka memilih pendekatan panggung kreatif yang terasa seperti festival jalanan penuh warna. Format aksi yang tidak biasa ini langsung menyedot perhatian wisatawan dan warga.
Acara dibuka dengan penampilan grup punk independen Bersama Marjinal yang membawakan lagu “Merencong-rencong” dan “Negeri Ngeri”. Dentuman musik keras yang memantul di bangunan tua bergaya kolonial membuat suasana semakin dramatis, seakan sebuah film musikal urban sedang berlangsung. Nuansa kritik sosial terselip kuat dalam lirik-lirik yang mereka nyanyikan.

Setelah itu, panggung dilanjutkan oleh Orkes Melayu Trotoar Jalanan yang datang dengan gaya kontras: ceria, segar, dan mengajak pengunjung berdendang. Pergantian antara punk dan orkes melayu menciptakan dinamika panggung yang jarang terlihat dalam aksi demonstrasi konvensional. Kehadiran mereka membuat publik bertahan lebih lama dan semakin memperhatikan pesan yang ingin disampaikan UMKM mengenai bahaya impor pakaian bekas ilegal.
Penampilan paling mencuri perhatian muncul ketika Citayam Gank memasuki panggung dengan format fashion show jalanan. Mereka berlenggak-lenggok membawa poster berisi keluhan pedagang kecil, tuntutan perlindungan industri lokal, dan ajakan untuk menghentikan pakaian bekas impor. Visual mereka tampil seperti adegan runway dalam film indie eksperimental.

Momen fashion show tersebut menjadi titik paling ramai direkam oleh pengunjung. Kaum muda yang berada di lokasi langsung membanjiri media sosial dengan video pendek, menjadikan aksi ini viral dan menarik simpati publik luas. Perpaduan musik, seni, dan aksi sosial yang cair dan kreatif membuat acara ini memiliki nilai sinematis yang kuat.
Di tengah suasana ramai itu, CEO Sinergi ADV Nusantara, H. Prama Tirta, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas kebijakan tegasnya. Ia menuturkan bahwa langkah tersebut memberi harapan baru bagi pelaku UMKM yang selama ini berada di bawah tekanan derasnya pakaian bekas impor. Pidatonya, meskipun singkat, menjadi jembatan antara hiburan dan pesan ekonomi nasional.

Aksi panggung ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi alat komunikasi publik yang efektif untuk isu-isu ekonomi. Bukan hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menyatukan komunitas tanpa nuansa konfrontatif. Dengan menggunakan format hiburan, pesan besar UMKM menjadi lebih mudah diterima publik dan lebih cepat menyebar.
Dengan pertunjukan yang memadukan punk, orkes melayu, dan fashion show, aksi ini membuktikan bahwa kesadaran publik bisa dibangun melalui kreativitas dan ekspresi budaya. UMKM berharap langkah pemerintah terus berlanjut, sementara aksi seni seperti ini dapat menjadi ruang baru untuk mengangkat isu nasional dengan cara yang lebih segar, modern, dan dekat dengan masyarakat. san/*





