JAKARTA, KONSEPNEWS – KH. Cholil Nafis kembali mengingatkan pentingnya memahami makna Maulid Nabi sebagai wujud kegembiraan dan syukur umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad saw. Ia menyebut bahwa istilah “merayakan” lebih tepat digunakan dibanding “memperingati”, karena Maulid Nabi berfungsi sebagai ekspresi cinta dan kebahagiaan atas hadirnya sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dalam penjelasannya di hadapan jamaah, ia merinci empat syarat yang harus dipenuhi agar sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai Maulid Nabi secara utuh. Keempat komponen tersebut adalah berkumpulnya jamaah, pembacaan ayat Al-Qur’an, penyampaian sirah Nabi, dan adanya hidangan makanan. Menurutnya, jika salah satu unsur absen, maka kegiatan tersebut tidak memenuhi ciri autentik Maulid yang dikenal para ulama.
Kyai Cholil memandang bahwa tradisi Maulid bukan hanya ritual seremonial, tetapi momen penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi. Ia menilai bahwa setiap kegiatan keislaman semestinya menghadirkan dampak spiritual dan edukatif yang dapat dirasakan langsung oleh jamaah. Tradisi berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan menyimak sejarah Nabi dinilai mampu memperkuat identitas keagamaan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, ia kembali menyoroti persoalan rendahnya literasi Al-Qur’an di Indonesia. Data yang ia sampaikan menunjukkan bahwa 65 persen umat Islam belum mampu membaca Al-Qur’an dengan benar. Kondisi ini mengkhawatirkan, mengingat kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan pondasi bagi pemahaman agama yang lebih mendalam.
Ia mendorong agar masjid-masjid memperluas perannya sebagai pusat pembelajaran Al-Qur’an. Masjid Ar-Rahmah, yang berlokasi di Perum Duta Mekar Asri, Cileungsi, Kabupaten Bogor ini menurutnya, dapat menjadi model percontohan dengan menyediakan kelas baca Al-Qur’an khusus untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang belum memiliki kemampuan dasar. Upaya sistematis seperti ini dianggap sangat diperlukan untuk menekan angka buta huruf Al-Qur’an di tingkat komunitas.
Kyai Cholil juga mengajak pemerintah daerah, takmir masjid, dan komunitas keagamaan untuk memperkuat kerja sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama masyarakat. Ia percaya bahwa kolaborasi yang terstruktur dapat membangun generasi Muslim yang lebih kuat dari sisi pemahaman dan praktik keagamaan.
Ia menambahkan bahwa Maulid Nabi semestinya dijadikan momentum memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, serta mempererat hubungan sosial antarumat. Menurutnya, pelaksanaan Maulid yang benar dapat menjadi energi positif untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan religius.
Kajian ditutup dengan seruan agar umat Islam tidak hanya merayakan Maulid Nabi dalam konteks ritual, tetapi menjadikannya inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang lebih utuh, Maulid Nabi dapat memperkuat karakter keislaman sekaligus menjadi jalan memperbaiki kualitas spiritual masyarakat. san/*







