JAKARTA, KONSEPNEWS – Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Umamah di Klender, Jakarta Timur, bukan hanya sebuah lembaga pendidikan. Ia adalah wujud cita-cita seorang ibu, tekad seorang anak bungsu, serta keteguhan seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk mencetak generasi penghafal Al-Qur’an tanpa memungut biaya sepeser pun. Sang pendirinya, KH Achmad Bachru Rozak, MA, wafat pada 13 November 2025, namun jejak perjuangannya terus hidup melalui keluarga serta para santri yang ia tinggalkan.
Anak sulung almarhum, Ahmad Raja Haykal, menceritakan perjalanan panjang sang ayah dalam membangun Pesantren Al-Umamah, nama yang diambil dari nama ibunda almarhum.

KH Achmad Bachru Rozak, MA
Bermula dari Wasiat Sang Ibu
Menurut Raja, semangat mendirikan pesantren muncul dari pesan kuat ibunda Almarhum. “Nenek ingin sekali ayah bisa mendirikan pesantren. Karena itu rumah yang ditinggali nenek diberikan kepada ayah, supaya rumah itu menjadi penerang orang tua di alam kubur,” tuturnya.
Rumah warisan tersebut menjadi fondasi awal berdirinya Al-Umamah. Dari bangunan sederhana itu, KH Achmad Bachru Rozak memulai perjuangan membangun pesantren tahfidz yang benar-benar gratis bagi seluruh santri, terutama yatim, piatu, dan dhuafa.
“Dari awal tidak ada biaya, semuanya gratis. Ayah dan bunda yang menanggung semuanya, dibantu para dermawan,” kata Raja dalam keterangannya, baru-baru ini.
Meski dihadapkan pada berbagai dinamika dan kesulitan finansial, almarhum tetap teguh mempertahankan pesantren sebagai lembaga yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk masyarakat yang membutuhkan.
Riwayat Pendidikan dan Pengabdian
KH Achmad Bachru Rozak bukan hanya seorang ulama, tetapi juga akademisi. Ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Sebelum fokus penuh menjalankan pesantren, almarhum sempat menjadi dosen selama 13 hingga 16 tahun. Setelah itu, ia memutuskan “banting setir” untuk sepenuhnya mengabdikan diri pada dakwah dan pendidikan Al-Qur’an melalui Pesantren Al-Umamah.
Sang istri, Nurul Laily, juga merupakan lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S1), yang sejak awal mendampingi perjuangan almarhum membangun pesantren dari nol.
Kehidupan Keluarga dan Tongkat Estafet Kepemimpinan
KH Achmad Bachru Rozak meninggalkan tiga anak, Ahmad Raja Haykal (anak pertama), Ahmad Zulfiqar Attaaj (anak kedua), dan Qayla Ahsanty Rozak (anak ketiga). Raja mengungkapkan bahwa ia dan adik-adiknya akan meneruskan perjuangan sang ayah.
“Insyaallah kita anak-anaknya yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan ayah. Tapi kita juga sedang kuliah, jadi sambil menyelesaikan pendidikan, pesantren akan dibantu para santri senior dan teman-teman dakwah ayah,” tutur Raja.
Raja sendiri tengah menempuh pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan Hukum Keluarga. Ia berencana pulang setiap satu atau dua minggu sekali untuk membantu mengurus pesantren.
Selain itu, Raja juga menargetkan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mengambil sanad agar layak meneruskan amanah sang ayah. “Setahun atau dua tahun ke depan insyaallah saya fokus menyelesaikan hafalan dan belajar ke guru-guru di Bandung,” ujarnya.
Warisan Perjuangan Sang Guru Besar
KH Achmad Bachru Rozak lahir pada 1 Mei 1975 dan wafat pada 13 November 2025. Dalam rentang hidupnya, ia memilih jalur pengabdian yang sunyi namun penuh makna: mencetak penghafal Al-Qur’an tanpa membebani mereka dengan biaya.
Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Umamah di
Jl. Pertanian Selatan RT 14/RW 03 No.14, Klender, Jakarta Timur, kini menjadi simbol dari visi, cinta, dan ketulusan almarhum.
Meskipun ia telah tiada, semangatnya tidak padam. Anak-anaknya, istrinya, serta para santri terus berupaya menjaga pesantren tetap berjalan, seperti yang ia inginkan seumur hidupnya. “Yang pasti perjuangan ayah tidak boleh berhenti. Insyaallah kami lanjutkan,” tegas Raja.
Warisan terbesar KH Achmad Bachru Rozak bukanlah bangunan fisik, melainkan generasi Qur’ani yang ia bentuk dan semangat kebaikan yang mengalir dari tekad seorang anak memenuhi pesan ibunya: mendirikan pesantren sebagai cahaya bagi masyarakat. ***






