KOTA BANDUNG, KONSEPNEWS – Proses penerimaan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol), Bintara, dan Tamtama Polri Tahun Anggaran 2026 di lingkungan Polda Jawa Barat dipastikan berjalan dengan prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH). Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Polda Jabar, Kombes Pol Fadly Samad, sebagai bagian dari upaya menghadirkan seleksi yang objektif dan bebas dari praktik kecurangan.
Menurut Fadly, seluruh tahapan seleksi dilaksanakan secara terbuka sehingga peserta dapat mengetahui secara langsung hasil yang diperoleh pada setiap tes yang diikuti. Transparansi tersebut menjadi salah satu langkah untuk membangun kepercayaan publik terhadap proses rekrutmen anggota Polri.
“Selesai tes nilai langsung terpampang di layar, semua peserta bisa melihat hasilnya, baik nilainya sendiri maupun peserta lain,” ujar Kombes Pol Fadly Samad dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, sistem seleksi terbuka telah diterapkan Polri dalam beberapa tahun terakhir guna memastikan seluruh peserta memperoleh kesempatan yang sama tanpa adanya perlakuan khusus. Melalui sistem tersebut, hasil ujian dapat diketahui secara real time sehingga meminimalkan potensi manipulasi nilai.
Tidak hanya itu, peserta yang merasa terdapat ketidaksesuaian hasil juga diberikan kesempatan untuk melakukan koreksi kepada panitia. Menurut Fadly, seluruh peserta telah mengetahui bobot penilaian dari setiap tahapan sehingga mampu menghitung sendiri nilai yang diperoleh.
“Peserta tes ketika merasa nilainya tidak sesuai, diberikan kesempatan untuk mengoreksi kepada panitia. Mereka juga sudah mengetahui bobot penilaian akademik, psikologi, maupun jasmani. Dengan sistem terbuka ini, calon taruna bisa menghitung sendiri hasil yang diperoleh,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pengawasan dilakukan secara berlapis. Selain diawasi unsur internal seperti Itwasda dan Bid Propam Polda Jabar, proses seleksi juga melibatkan pengawasan eksternal dari berbagai elemen masyarakat guna memastikan seluruh tahapan berlangsung jujur, profesional, dan akuntabel.
Rangkaian seleksi dimulai dari pendaftaran online dan verifikasi administrasi, dilanjutkan pemeriksaan administrasi awal, pemeriksaan kesehatan tahap pertama, tes psikologi berbasis Computer Assisted Test (CAT), tes akademik, tes komputer, Mental Ideologi (MI), hingga Penelusuran Mental Kepribadian (PMK). Peserta yang lolos kemudian mengikuti pemeriksaan kesehatan tahap kedua, tes kesamaptaan jasmani, wawancara PMK dan psikologi, hingga pemeriksaan administrasi akhir.
Fadly menegaskan bahwa sebelum memasuki ruang ujian, seluruh peserta menjalani pemeriksaan ketat guna memastikan tidak membawa perangkat komunikasi maupun alat lain yang dapat digunakan untuk berbuat curang selama tes berlangsung.
“Tes CAT ini dirancang untuk mengukur potensi dan karakter peserta secara objektif. Setiap peserta memiliki kesempatan yang sama, dan hasilnya murni berdasarkan kemampuan masing-masing,” tegasnya.
Sementara itu, Kabagbinkar Ro SDM Polda Jabar AKBP Condro Sasongko menilai keterbukaan menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Ia memastikan tidak ada jalan pintas dalam proses seleksi penerimaan anggota Polri.
“Polda Jabar memastikan tidak ada jalan pintas dalam seleksi penerimaan anggota Polri, baik Taruna Akpol, Bintara, maupun Tamtama. Setiap peserta yang lulus adalah mereka yang benar-benar memenuhi kriteria kemampuan dan integritas,” ujar AKBP Condro Sasongko.
Melalui proses seleksi yang profesional, objektif, dan transparan tersebut, Polda Jawa Barat berharap dapat melahirkan calon-calon anggota Polri yang unggul, berintegritas, serta siap menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat di masa depan. san/*







