JAKARTA, KONSEPNEWS – Memasuki fase kedua Pekan Kineforum 2025, perhatian publik Jakarta tertuju pada program Resonansi ’98: Film dan Reformasi!. Pemutaran berlangsung pada 3 hingga 5 Desember di Studio Sjuman Djaya, menghadirkan rangkaian film yang membingkai ulang pengalaman warga di masa transisi politik 1998. Setiap malam studio nyaris penuh, memperlihatkan besarnya kebutuhan publik untuk kembali membaca peristiwa Reformasi melalui bahasa sinema.
Penonton lintas generasi duduk berdampingan, dari mereka yang mengalami langsung gejolak 1998 hingga generasi muda yang mengenal Reformasi hanya lewat buku sejarah dan fragmen digital. Dalam keheningan, adegan-adegan film yang pernah diproduksi dalam situasi penuh tekanan terasa hadir ulang sebagai cermin sosial. Program ini menjadi titik temu emosional dan intelektual bagi banyak penonton.
Momentum terpenting hadir pada malam 5 Desember di Teater Asrul Sani melalui diskusi publik “Resonansi 98: Yang Kita Ingat, Yang Kita Rawat”. Forum ini menghadirkan suasana yang hangat namun penuh keberanian ketika para peserta satu per satu berbagi memori mereka. Ada yang bercerita tentang kehilangan, ada yang mengaku selalu merasa jauh dari ruang aman untuk membicarakan masa itu.
Banyak peserta menyebut bahwa program ini memberi ruang aman untuk mempertemukan ingatan pribadi dengan narasi bangsa yang lebih luas. Salah satu peserta menyampaikan, “Selama ini sulit sekali menemukan ruang publik yang memungkinkan kita membicarakan Reformasi tanpa rasa takut. Kineforum membuka pintu itu.” Pengakuan itu memperlihatkan pentingnya ruang diskursif non-komersial yang menopang ingatan kolektif.
Program Resonansi ’98 dikerjakan bersama Kolektif Merawat Ingatan, yang selama ini aktif merawat memori peristiwa politik melalui seni, arsip, dan dialog. Pendekatan ini membuat diskusi tidak hanya berorientasi pada nostalgia, tetapi pada praktik perawatan ingatan yang berkelanjutan. Film menjadi medium yang menghubungkan trauma, refleksi, dan harapan.
Salah satu kurator Kineforum menjelaskan bahwa pemilihan tema Reformasi bukan sebatas retrospektif, melainkan upaya merawat kedewasaan publik dalam membaca ulang sejarah. “Film dapat menjadi alat untuk kembali memandang masa lalu secara lebih jernih. Resonansi ’98 membantu kita memahami bagaimana ingatan bekerja di tengah masyarakat yang terus berubah,” ujar kurator tersebut.
Suasana penuh empati sepanjang diskusi menjadi bukti bahwa pengalaman politik tidak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Penonton merespons film-film yang diputar sebagai ajakan untuk membuka kembali ruang-ruang percakapan yang selama ini tertutup. Energi yang hadir memperlihatkan bagaimana sinema kembali menjadi ruang penyatu pengalaman generasi.
Melalui Resonansi ’98, Pekan Kineforum 2025 menunjukkan bahwa film memiliki kekuatan besar untuk merawat kesadaran publik. Dalam enam hari program berlangsung, warga datang bukan sekadar menonton, tetapi merawat ingatan bersama tentang perjalanan bangsa. Sinema menjadi bahasa yang memungkinkan Jakarta membaca diri dan sejarahnya. san/*





