JAKARTA, KONSEPNEWS – Survei Sun Life juga mengungkap adanya dua kelompok besar dalam perencanaan pensiun masyarakat Indonesia, yakni mereka yang siap secara finansial dan mereka yang terpaksa menunda masa pensiun. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana ketimpangan literasi dan kesiapan keuangan membentuk pengalaman pensiun yang sangat kontras.
Kelompok yang disebut Gold Star Planners digambarkan sebagai individu yang memiliki perencanaan matang dan fleksibilitas dalam menentukan kapan serta bagaimana mereka mengurangi aktivitas kerja. Sebanyak 48 persen dari kelompok ini mengaku menantikan masa pensiun karena ditopang rasa aman secara finansial.
Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja bukanlah kewajiban, melainkan pilihan yang didorong oleh tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan pribadi. Survei mencatat 83 persen dari kelompok ini menikmati aspek sosial dari pekerjaan dan tetap ingin aktif secara fisik maupun mental.
Sebaliknya, kelompok Stalled Starters menghadapi realitas yang jauh berbeda. Mereka cenderung menunda pensiun karena ketidakmampuan finansial untuk berhenti bekerja. Sebanyak 20 persen dari kelompok ini merasa tidak pasti atau pesimistis menghadapi masa pensiun.
Tekanan kebutuhan keluarga menjadi faktor dominan. Survei mencatat 43 persen Stalled Starters menunda pensiun untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak. Kondisi ini semakin diperparah oleh fenomena sandwich generation, di mana individu harus menopang orang tua sekaligus anak.
Di tengah tantangan tersebut, muncul tren baru dalam perencanaan keuangan, yakni meningkatnya penggunaan generative AI sebagai sumber informasi. Penggunaan alat seperti ChatGPT dan Google Gemini melonjak dari 13 persen menjadi 30 persen dibanding survei sebelumnya.
Namun, peningkatan ini berbanding terbalik dengan minat terhadap nasihat profesional. Jumlah responden yang berkonsultasi dengan bank atau penasihat keuangan independen menurun signifikan, menandakan adanya risiko perencanaan pensiun yang tidak terarah dan minim personalisasi.
Albertus Wiroyo menekankan bahwa meski AI dapat membantu sebagai titik awal informasi, peran penasihat keuangan profesional tetap krusial. Menurutnya, perencanaan pensiun yang kuat harus mengintegrasikan keamanan finansial, kesehatan, dan tujuan hidup agar masa pensiun benar-benar menjadi fase kehidupan yang berkualitas, bukan penuh tekanan. san/*







