Turun dari Amazon, Hero Aprila Bawa Suara Adat Nusantara ke COP 30

by
foto dok. bpan dan aman
foto dok. bpan dan aman

JAKARTA, KONSEPNEWS – Mendekati pembukaan COP 30, nuansa dramatis mewarnai Sungai Amazon saat Yaku Mama Amazon Flotilla tiba di Belem, Brazil. Kapal kayu raksasa yang dihiasi pesan keadilan iklim itu membawa lebih dari 50 pemimpin muda adat dari berbagai negara di Amerika Latin. Turun dari kapal, mereka memasuki kota layaknya rombongan aktor utama yang membawa naskah penting untuk pentas dunia. Di antara rombongan itu, Hero Aprila dari Bengkulu hadir membawa suara masyarakat adat Indonesia.

Ekspedisi ini sudah bergulir sejak Oktober, melintasi lebih dari 3.000 kilometer aliran Sungai Amazon. Dari Ecuador hingga Brazil, perjalanan ini membentang seperti sinematografi alam yang menghadirkan lanskap hutan raksasa, desa-desa adat, dan jejak tekanan industri ekstraktif. Hero naik dari Santarem, mengikuti alur sungai, sekaligus menunjukkan solidaritas kepada para pemuda adat Amerika Latin yang tengah memperjuangkan hak atas wilayahnya.

Selama perjalanan, Hero melihat bagaimana Yaku Mama, atau Ibu Air, menjadi simbol kuat perlindungan kehidupan. Kapal ini menjadi panggung bergerak yang menghidupkan isu penting tentang penyerapan karbon, ancaman industri minyak, dan kondisi masyarakat adat di Amazon yang terus berjuang menjaga tanah mereka. Bagi Hero, perjalanan itu mengajarkan bahwa narasi keadilan iklim tidak bisa dipisahkan dari perjuangan masyarakat adat di seluruh dunia.

Hero bersama rekan-rekannya menyusun tuntutan yang akan dibawa ke COP 30, dengan salah satu poin penting dari Indonesia adalah pengesahan Undang-Undang Masyarakat Adat. Ia menegaskan bahwa masalah yang dialami oleh masyarakat adat Tanah Air sangat paralel dengan komunitas di Amerika Latin: perampasan wilayah adat, kriminalisasi praktik ladang berpindah, dan hilangnya akses terhadap pendanaan iklim yang seharusnya diterima langsung oleh masyarakat.

Dialog mereka di kapal menjadi pertemuan pemikiran yang serius, layaknya ruang penulisan naskah film dokumenter tentang perjuangan global masyarakat adat. Hero menuturkan bagaimana perlawanan masyarakat adat di negeri sendiri tercermin dalam kasus Talang Mamak di Indragiri Hulu, yang dik criminalisasi karena praktik ladang berpindah yang sebenarnya didasarkan pengetahuan leluhur dan menjaga keseimbangan alam.

Saat singgah di komunitas Novo Carão, Hero merasakan langsung tantangan berat yang dihadapi masyarakat adat Amazon, mulai dari akses wilayah yang sulit hingga populasi yang semakin sedikit karena tekanan wilayah. Ia harus naik dua kapal tambahan dan berjalan kaki 30 menit menuju pedalaman—sebuah perjalanan yang menunjukkan betapa terisolasinya komunitas adat yang mempertahankan tanahnya.

Perjumpaan di Novo Carão memperlihatkan bagaimana kriminalisasi praktik tradisional menjadi persoalan global. Hero mengikuti ritual saat bulan purnama, merasakan bagaimana kehidupan mereka tetap dijalankan meski diterpa berbagai intimidasi. Baginya, momen itu seperti adegan yang menggambarkan betapa rapuh namun tegar komunitas adat menjaga ruang hidupnya.

Perjalanan Hero bersama Yaku Mama berakhir di Belem, tetapi kesadarannya justru mencapai titik baru. Ia melihat bahwa perjuangan masyarakat adat adalah narasi panjang yang saling bersinggungan lintas benua. Dari Amazon hingga Nusantara, suara mereka menyatu dalam seruan agar dunia mendengar, memahami, dan mengakhiri ketidakadilan iklim yang terus berlangsung tanpa henti. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.