JAKARTA, KONSEPNEWS – Mitos tidak pernah mati—itulah pesan yang ingin disampaikan film Kuncen, yang memadukan legenda lokal Gunung Merapi dengan dinamika anak muda kota dalam cerita penuh teror. Film ini bukan hanya horor yang memanfaatkan seting pegunungan angker; ia menggali lebih jauh hubungan antara tradisi yang diwariskan turun-temurun dan generasi baru yang sering kali tidak lagi memahami batas-batas spiritual yang dilindungi adat.
Lima remaja dalam cerita—Awindya, Vonny, Mikha, Yoga, dan Diska—adalah cerminan generasi urban modern yang terbiasa dengan teknologi dan logika. Namun ketika mereka memasuki wilayah yang menyimpan adat keramat, mereka dipaksa memahami bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan oleh rasionalitas. Pergeseran pola pikir ini menjadi inti ketegangan yang dibangun film.
Tradisi Juru Kunci atau Kuncen digambarkan secara mendalam, bukan sekadar latar mistis. Produser Rahul Mulani mengatakan bahwa mereka ingin membawa peran Kuncen ke layar lebar secara lebih jujur—sebagai sosok penjaga adat yang melindungi masyarakat, bukan sekadar ikon horor. Keberadaan Kuncen dalam cerita menjadi titik temu antara dunia modern dan dunia spiritual yang sering tidak terlihat tapi dipercaya.
Sutradara Jose Poernomo memanfaatkan lanskap Merapi yang megah namun mencekam untuk menunjukkan bahwa alam adalah entitas yang harus dihormati. Pepohonan raksasa, jurang samar, dan kabut tebal menjadi metafora benturan antara keberanian anak muda dan batas-batas tradisi kuno. Setiap langkah para karakter terasa seperti undangan untuk memahami dunia yang lebih tua dari mereka, sekaligus pengingat bahwa ada kekuatan yang tidak boleh dianggap remeh.
Dalam film, ketidaktahuan anak-anak kota menjadi penyebab banyak konflik, baik terhadap sesama maupun terhadap alam dan entitas tak kasat mata. Hal ini menciptakan dinamika yang membuat penonton tidak hanya tegang, tetapi juga merenung bagaimana tradisi seharusnya tetap menjadi bagian dari kehidupan modern.
Kuncen menjadi ruang pertemuan antara dua dunia: dunia anak muda yang penuh rasa ingin tahu, dan dunia adat yang memiliki garis batas tegas. Ketika keduanya bertabrakan, lahirlah cerita yang memikat sekaligus menyeramkan. san/*





