Gunung Padang Jadi Ruang Reflektif Pelestarian Budaya dalam Pentas PWI Jakarta

by
foto dok. pwi jakarta
foto dok. pwi jakarta

KABUPATEN CIANJUR, KONSEPNEWS – Pentas budaya yang digelar PWI Jakarta di Gunung Padang, tidak hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga perenungan tentang identitas bangsa. Perubahan lokasi akibat hujan deras memindahkan pertunjukan ke Pendopo Gunung Padang, namun atmosfer yang tercipta justru membuka ruang refleksi lebih kuat mengenai hubungan antara seni, sejarah, dan jati diri kebangsaan.

Pertunjukan dibuka alunan Sape dari SlarasBudaya, menghadirkan nuansa transenden yang seolah mengembalikan memori kolektif pada tradisi Dayak yang lekat dengan spiritualitas alam. Perpaduan bunyi petikan dan resonansi ruangan pendopo menghasilkan pengalaman akustik yang membawa penonton larut dalam suasana kontemplatif.

Tari Bedhoyo Nawasena yang dibawakan Perkumpulan Arkamaya Sukma menjadi simbol harapan dan keselamatan. Koreografi Martini Brenda menghadirkan narasi yang lembut namun tegas, sementara iringan Lumbini Tri Hasto menambahkan lapisan emosional yang memperkuat pesan ritualistik tarian klasik Jawa tersebut. Penonton seolah diajak menyelami ruang-ruang waktu yang menyatukan masa lalu dan masa depan.

Tari Rejang Sari yang ditampilkan Komunitas SlarasBudaya kemudian mengembalikan energi kebersamaan. Gerak para penari yang padu mencerminkan nilai ketulusan dan kesetaraan, menghadirkan perasaan bahwa seni tradisional tidak hanya untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan sebagai bahasa universal lintas generasi.

Penanggung jawab kegiatan, Dar Edi Yoga, menyatakan bahwa pentas tersebut tidak hanya tentang penampilan. “Pentas ini adalah cara kami mengingatkan bahwa kebudayaan adalah fondasi jati diri bangsa,” ujarnya. Menurutnya, Gunung Padang dipilih karena nilai sejarahnya yang mampu menghidupkan kembali kesadaran kolektif tentang akar peradaban Nusantara.

Ketua Tim Penelitian Situs Gunung Padang, Ali Akbar, menegaskan pentingnya merawat situs bersejarah melalui kegiatan kebudayaan. “Pentas seni di ruang megalitik seperti ini memperkaya kesadaran publik bahwa sejarah tidak hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk dihidupkan,” katanya. Ia berharap agenda ini terus berlanjut agar generasi muda lebih dekat dengan warisan leluhur.

Ketua Panitia Rudolf Simbolon didampingi Rosy Maharani menyebut suasana pendopo justru menciptakan kedekatan yang sulit didapat dalam panggung terbuka. “Di ruangan seperti ini, energi para penampil terasa lebih kuat. Semua terbawa dalam satu napas,” jelasnya. Interaksi antara penonton dan seniman pun menjadi lebih personal.

Acara yang didukung Oval Advertising dan Pertamina Hulu Indonesia ini akhirnya menguatkan pesan simbolis bahwa seni adalah jembatan yang menyatukan dimensi waktu dan identitas. Gunung Padang kembali menjadi ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan kebinekaan, menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tugas bersama, bukan sekadar seremoni. ich

No More Posts Available.

No more pages to load.