BANGKOK, KONSEPNEWS – Kendati konsumen premium di Asia Tenggara sama-sama mencari nilai emosional dalam pengalaman kuliner, perilaku nyata di tiap pasar menunjukkan karakteristik yang berbeda secara kultural. White paper garapan Vero dan BurdaLuxury bertajuk “Taste and Transformation” membeberkan komparasi tajam antara perilaku bersantap mewah di Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Riset menemukan bahwa konsumen di Malaysia dan Singapura cenderung memosisikan fine dining sebagai agenda spesial yang dinikmati sesekali saja, misalnya untuk merayakan pencapaian (31,5%) atau bentuk penghargaan diri (33,17%). Sebaliknya, konsumen premium di Thailand menunjukkan frekuensi kunjungan ke restoran mewah yang jauh lebih tinggi, keterlibatan di media sosial yang jauh lebih agresif, serta keterikatan kuat antara eksplorasi kuliner dengan keputusan perjalanan (traveling).
CEO BurdaLuxury, Björn Rettig, menjelaskan bahwa pemahaman terhadap perbedaan kultural dan tingkat kematangan pasar di tiap negara ini sangat krusial bagi kelangsungan industri gaya hidup regional.
“Melalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara saat ini,” ujar Björn Rettig, CEO BurdaLuxury. “Temuan yang kami peroleh mengonfirmasi pergeseran yang semakin kami amati: dari konsumsi berorientasi status menuju pencarian pengalaman yang lebih bermakna. Melalui makanan, konsumen membangun koneksi dengan budaya, orang lain, dan diri mereka sendiri, sementara restoran berkembang menjadi salah satu titik sentuh paling berpengaruh dalam lanskap gaya hidup yang lebih luas.”
Riset yang dirilis gratis di situs web Vero ini juga menggarisbawahi pentingnya faktor otentisitas bagi pasar regional yang kini mulai berhati-hati dalam berbelanja. Keaslian narasi yang disajikan di meja makan menjadi penentu apakah konsumen bersedia merekomendasikan pengalaman tersebut ke komunitas mereka.
Menanggapi perbedaan karakter pasar tersebut, Sireethon Auerat selaku Account Director Vero Thailand, menyoroti bagaimana sebuah jenama harus mampu mempersonalisasikan produknya agar sesuai dengan kebutuhan identitas konsumen lokal.
“Konsumen premium di Asia Tenggara saat ini tidak lagi sekadar menerima informasi dari brand, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk pengalaman itu sendiri,” ujar Sireethon Auerat, Account Director Vero Thailand. “Kami melihat adanya pergeseran, di mana pengalaman bersantap kini menjadi momen yang dipengaruhi oleh emosi sekaligus membentuk identitas seseorang. Ketika sebuah pengalaman kuliner mampu meninggalkan kesan yang kuat, pengaruhnya tidak berhenti di meja makan. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang membangun koneksi, memilih destinasi perjalanan, mengambil keputusan pembelian, hingga berinteraksi dengan brand. Karena itu, peluang terbesar bagi brand adalah menciptakan pengalaman yang terasa personal, bermakna, dan layak untuk dibagikan.” san/*






