Belajar Bahasa Asing Sejak Dini Dinilai Mampu Tingkatkan Kemampuan Kognitif Anak

by
foto dok. hudzaifah
foto dok. hudzaifah

JAKARTA, KONSEPNEWS – Di tengah semakin terhubungnya dunia secara global, tren mengenalkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini kian berkembang di Indonesia. Tidak hanya dipandang sebagai bekal komunikasi untuk masa depan, pembelajaran bahasa kini juga diyakini mampu memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif anak, mulai dari meningkatkan daya ingat hingga melatih fleksibilitas berpikir.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses mempelajari bahasa baru melibatkan beragam fungsi otak secara bersamaan. Aktivitas seperti mengingat kosakata, memahami pola bahasa, mengenali konteks, hingga menyesuaikan diri dengan aturan linguistik yang berbeda menjadi latihan mental yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir anak secara menyeluruh.

Riset yang dikemukakan oleh Duolingo menyebutkan bahwa belajar bahasa secara rutin mendorong otak untuk terus memanggil kembali informasi, mengenali pola, beralih di antara konsep yang berbeda, dan beradaptasi dengan aturan baru. Aktivitas tersebut disebut memiliki fungsi yang mirip dengan olahraga mental karena melatih berbagai area kognitif secara bersamaan.

Temuan serupa juga diperlihatkan dalam studi yang dilakukan Baycrest dan York University. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang dewasa yang menggunakan platform pembelajaran bahasa selama sekitar 30 menit setiap hari selama empat bulan menunjukkan peningkatan pada fungsi eksekutif dan performa kognitif, termasuk memori kerja, fokus, dan fleksibilitas berpikir.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Ayoe Sutomo, menjelaskan bahwa manfaat belajar bahasa tidak hanya terletak pada kemampuan berkomunikasi, tetapi juga pada proses berpikir yang berkembang selama pembelajaran berlangsung.

“Belajar bahasa baru tidak hanya membantu anak memperluas kosakata, tetapi juga melatih cara mereka memahami pola, menghubungkan informasi, dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda. Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari,” ujar Ayoe Sutomo.

Meski demikian, Ayoe mengingatkan bahwa hasil tersebut tidak diperoleh secara instan. Menurutnya, konsistensi belajar, frekuensi latihan yang teratur, serta suasana belajar yang menyenangkan menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan anak mempelajari bahasa baru. Pendampingan orang tua juga tetap diperlukan, terutama ketika anak menggunakan perangkat digital sebagai sarana belajar.

Fenomena meningkatnya minat belajar bahasa asing juga terlihat dari semakin banyak keluarga yang mengombinasikan interaksi sehari-hari, pendidikan formal, dan platform digital untuk memperkenalkan berbagai bahasa kepada anak. Salah satu contohnya dialami Hudzaifah Giyan G. yang mulai mengenal berbagai bahasa sejak usia sangat muda.

Sang ayah, Gosra Andri Putra, menuturkan bahwa ketertarikan Hudzaifah terhadap bahasa tumbuh secara alami melalui berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan usianya.

“Hudzaifah mulai dikenalkan pada berbagai bahasa sejak usia yang masih sangat muda. Sekitar usia 2,5–3 tahun, ia mulai belajar bahasa Inggris secara mandiri, dan salah satu alat yang ia gunakan adalah Duolingo. Menurut saya, aplikasi ini aman untuk anak-anak dan juga menyenangkan, karena dirancang seperti permainan dan menawarkan banyak pilihan bahasa. Yang terpenting, sama seperti penggunaan gadget atau permainan lainnya, pengawasan orang tua tetap menjadi hal yang penting dalam penggunaan oleh anak-anak,” ujar Gosra.

Di luar manfaat akademis, kemampuan multibahasa juga dinilai membuka peluang lebih besar bagi anak untuk mengenal beragam budaya, perspektif, dan cara berkomunikasi. Seiring meningkatnya kebutuhan keterampilan global di masa depan, pembelajaran bahasa asing kini tidak lagi sekadar menjadi kemampuan tambahan, melainkan bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, serta fondasi pembelajaran sepanjang hayat bagi generasi muda. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.