Dodol Nyonya Lauw 55, Warisan Tiga Generasi yang Terus Jaga Cita Rasa Autentik Khas Kota Tangerang
KOTA TANGERANG, KONSEPNEWS – Di tengah menjamurnya kuliner modern dengan berbagai inovasi rasa dan tampilan, Dodol Nyonya Lauw 55 tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner tradisional yang menjaga keaslian resep warisan keluarga. Berdiri sejak 1969 dan kini dikelola generasi ketiga, usaha tersebut resmi menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Tangerang yang terus diminati masyarakat dari berbagai daerah.
Di bawah kepemimpinan Reni bersama sang suami, Dodol Nyonya Lauw 55 mempertahankan resep turun-temurun yang diwariskan dari sang kakek, kemudian dilanjutkan oleh ibu mertuanya hingga kini tetap eksis di tengah persaingan industri kuliner yang semakin modern.
Reni mengatakan, menjaga cita rasa autentik menjadi komitmen utama keluarganya. Karena itu, proses produksi masih dilakukan secara tradisional menggunakan kayu bakar dan pengadukan manual selama berjam-jam, tanpa menggunakan bahan pengawet.
“Di tengah banyaknya produsen yang beralih ke mesin modern, kami tetap mempertahankan proses pembuatan secara tradisional. Menggunakan resep asli tanpa bahan pengawet dan dimasak manual dengan kayu bakar adalah kunci kami menjaga kualitas serta rasa autentik yang sudah dipercaya pelanggan sejak generasi pertama,” ujar Reni.
Menurutnya, penggunaan bahan baku pilihan menjadi faktor penting yang membuat tekstur dodol tetap legit dengan aroma kelapa yang khas. Seluruh adonan diaduk secara manual selama kurang lebih enam jam agar menghasilkan kualitas yang konsisten.
“Kami mempertahankan cara asli dengan kayu bakar dan bahan pilihan agar rasa tetap terjaga. Kata pelanggan, teksturnya legit, manisnya pas, dan memiliki aroma kelapa yang khas,” katanya.
Setiap hari, Dodol Nyonya Lauw 55 mampu memproduksi sekitar 50 hingga 70 kilogram dodol segar. Produk tersebut tersedia dalam delapan varian rasa, mulai dari original, wijen, durian, cempedak, hingga kacang mete yang menjadi favorit pelanggan. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp120 ribu, tergantung varian rasa. Berkat penggunaan bahan alami tanpa pengawet, dodol mampu bertahan hingga tiga minggu pada suhu ruang dan lebih lama apabila disimpan di dalam freezer.
Selain dodol, usaha keluarga tersebut juga memproduksi kue keranjang yang biasanya tersedia menjelang perayaan Imlek maupun Idulfitri. Produk-produknya tidak hanya dipasarkan melalui toko di kawasan Karangsari, Neglasari, tetapi juga melayani pemesanan secara daring melalui WhatsApp, Tokopedia, dan GoFood sehingga dapat menjangkau pelanggan hingga luar Pulau Jawa.
Tradisi menjaga kualitas yang diwariskan lintas generasi membuat Dodol Nyonya Lauw 55 terus menjadi pilihan masyarakat, terutama saat Ramadan dan menjelang hari raya. Hal itu juga diakui Umar Sanjaya, anggota keluarga yang turut meneruskan usaha tersebut. Menurutnya, permintaan selalu meningkat setiap musim perayaan karena banyak pelanggan menjadikan dodol sebagai oleh-oleh maupun hantaran.
“Kami hanya meneruskan usaha keluarga yang sudah dirintis sejak lama. Alhamdulillah, sampai sekarang pelanggan datang dari Jabodetabek bahkan luar daerah karena banyak yang menjadikan dodol ini sebagai oleh-oleh khas Kota Tangerang,” ujar Umar.
Kesetiaan pelanggan menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Salah seorang pelanggan asal Kabupaten Tangerang, Siti, mengaku keluarganya telah menjadi pelanggan tetap Dodol Nyonya Lauw selama bertahun-tahun.
“Harganya terjangkau dan rasanya memang lebih enak. Keluarga saya sudah langganan beli dodol di sini sejak dulu,” tutur Siti.
Di tengah perubahan zaman, Dodol Nyonya Lauw 55 membuktikan bahwa mempertahankan tradisi bukan berarti tertinggal. Justru melalui konsistensi menjaga resep leluhur, kualitas bahan baku, dan proses produksi tradisional, kuliner legendaris ini terus memperkuat identitas Kota Tangerang sebagai daerah yang kaya akan warisan kuliner autentik. san/*





