Dari Hutan ke Meja Makan, Keripik Pisang Love Bana Jadi Jalan Perempuan Desa Menjaga Alam dan Menguatkan Ekonomi

by
foto dok. pinus
foto dok. pinus

KABUPATEN MUARA ENIM, KONSEPNEWS – Menjaga hutan ternyata tidak selalu dilakukan dengan patroli atau penanaman pohon. Di Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, para perempuan membuktikan bahwa melindungi alam juga bisa dilakukan melalui pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu.

Melalui KUPS Perempuan Anak Belai yang dibentuk pada 2023, puluhan ibu rumah tangga mengolah hasil agroforestri menjadi keripik pisang bermerek Love Bana, produk lokal yang kini menjadi simbol keterhubungan antara pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pisang dipilih karena dapat dibudidayakan tanpa membuka kawasan hutan. Bersama LPHA Ghimbe Pramunan, pemerintah desa, KPH Wilayah VII Semende, serta dinas terkait, kelompok ini telah menanam sekitar 100 pohon pisang di lahan agroforestri seluas satu hektare.

Pendampingan dari PINUS Sumatera Selatan tidak hanya membantu meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperkuat kelembagaan kelompok, pengurusan legalitas usaha, hingga strategi pemasaran.

Direktur PINUS Sumatera Selatan, Yunita Sari, mengatakan pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan hutan.

“Kami tidak hanya membantu warga membuat produk jadi, tetapi juga mendampingi prosesnya agar perempuan percaya diri, punya posisi dalam pengambilan keputusan, dan usahanya berkelanjutan,” kata Yunita.

Bagi Ani Tasria, keberadaan usaha tersebut mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan.

“Kami baru sadar, hutan itu seperti supermarket tanpa tagihan. Ada pisang, bambu, jambu hutan, semua diberikan tanpa pamrih oleh ibu bumi. Tanggung jawab kita adalah menjaga kelestariannya,” ujarnya.

Selain memproduksi keripik pisang, anggota KUPS juga terlibat dalam pengemasan, pemasaran, hingga pengembangan produk berbasis potensi lokal lainnya. Pendekatan ini membuat manfaat menjaga hutan dapat dirasakan langsung oleh keluarga sekaligus membuka ruang lebih besar bagi perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.

Yunita berharap langkah yang dilakukan perempuan Desa Penyandingan dapat menginspirasi daerah lain.

“Bu Ani menunjukkan bahwa perempuan desa bukan hanya pengamat pasif, tetapi aktor perubahan. Harapannya, semakin banyak ibu-ibu di daerah lain yang terinspirasi sehingga desa dapat semakin mandiri melalui KUPS,” tutupnya.

Melalui Love Bana dan berbagai usaha berbasis agroforestri, perempuan Desa Penyandingan membuktikan bahwa kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh beriringan, saling menguatkan, dan menjadi fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.