JAKARTA, KONSEPNEWS – Stunting selama ini kerap dikaitkan dengan persoalan tumbuh kembang anak. Padahal, upaya pencegahannya perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki fase kehamilan dan menjadi orang tua. Kesadaran tersebut coba dibangun di tengah remaja melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) di RW 05, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Pada 26 April 2026, Gedung Posyandu RW 05 menjadi ruang belajar bagi para kader Posyandu Remaja dan perwakilan remaja dari setiap RT. Mereka mengikuti kegiatan bertajuk “Pencegahan Dini terhadap Faktor Risiko Stunting pada Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Berbasis Android.”
Kegiatan ini digagas tim dosen Poltekkes Kemenkes Jakarta I Jurusan Keperawatan, yakni Ii Solihah, SKp, MKM; Dr. Tutyani, SKp, MKep; dan Kurniawati, SKep, MKep, bersama mahasiswa.
Suasana kegiatan tidak sekadar seperti penyuluhan kesehatan pada umumnya. Para remaja diajak menjadi bagian dari solusi. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diberi kesempatan mencari informasi, berdiskusi, serta memahami bahwa kesehatan generasi mendatang turut ditentukan oleh pilihan dan pengetahuan mereka sejak sekarang.
Ketua Pengabmas, Ii Solihah, menekankan bahwa remaja memiliki posisi penting dalam mata rantai pencegahan stunting.
“Kesadaran remaja mencegah stunting, modal utama mewujudkan generasi sehat dan bermartabat,” ujar Ii Solihah.
Pesan tersebut menjadi dasar kegiatan yang diarahkan untuk memperkuat pengetahuan sekaligus sikap remaja terhadap faktor risiko stunting. Sebab, membangun generasi yang sehat tidak cukup dilakukan ketika seorang ibu sudah mengandung. Persiapannya perlu dimulai sejak masa remaja.
Belajar Kesehatan Lewat Ponsel
Ada hal menarik dalam kegiatan tersebut. Materi edukasi tidak hanya disampaikan secara tatap muka, tetapi juga memanfaatkan perangkat yang sudah sangat dekat dengan kehidupan remaja: telepon pintar berbasis Android.
Melalui sebuah tautan, peserta dapat mengakses materi edukasi secara mandiri. Cara tersebut sekaligus memperkenalkan pendekatan baru bahwa teknologi yang sehari-hari digunakan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar mengenai kesehatan.
Remaja terlebih dahulu diberikan penjelasan mengenai tujuan dan rangkaian kegiatan. Setelah itu, mereka mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap sebelum memperoleh materi.
Tahap berikutnya, peserta mengakses materi melalui tautan yang telah disediakan. Selama sekitar 20 menit, mereka mempelajari informasi yang tersedia sebelum masuk ke sesi diskusi.
Di sinilah suasana menjadi lebih hidup. Para peserta dapat menyampaikan pemahaman maupun pertanyaan yang muncul setelah membaca materi. Diskusi menjadi ruang untuk menghubungkan informasi kesehatan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Setelah seluruh rangkaian edukasi dan diskusi selesai, peserta kembali mengikuti post-test. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan dan sikap remaja sebesar 20 persen dibandingkan sebelum mendapatkan edukasi.
Angka tersebut menjadi catatan penting bagi tim Pengabmas. Edukasi kesehatan yang dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian remaja ternyata dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka.
Dari Remaja untuk Generasi Berikutnya
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat setempat. Hadir Kepala Kelurahan Ragunan, Kepala Puskesmas Pembantu Kelurahan Ragunan, Ketua RW 05 beserta jajaran, kader kesehatan, kader Posyandu Remaja, tim dosen, serta mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta I.
Kehadiran para kader dan remaja menjadi penting karena pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi diharapkan dapat diteruskan kepada teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Pendekatan berbasis Android juga membuka peluang agar informasi kesehatan dapat dipelajari kembali kapan saja. Remaja tidak harus menunggu kegiatan penyuluhan berikutnya untuk mendapatkan informasi, karena materi telah tersedia dan dapat diakses secara mandiri.
Bagi para penggagas kegiatan, hal tersebut merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kemandirian remaja dalam menjaga kesehatan.
Remaja pun ditempatkan bukan hanya sebagai penerima informasi, melainkan sebagai kelompok yang memiliki peran dalam mendeteksi dan memahami faktor risiko stunting sejak dini.
Di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan teknologi, pendekatan seperti ini terasa relevan. Ponsel yang berada di tangan remaja setiap hari dapat menjadi pintu masuk menuju pengetahuan yang bermanfaat bagi masa depan mereka.
Pada akhirnya, pencegahan stunting bukan semata tentang angka prevalensi atau program pemerintah. Di baliknya ada cerita tentang seorang remaja yang mulai memahami pentingnya kesehatan, seorang kader yang meneruskan informasi kepada lingkungannya, serta masyarakat yang perlahan membangun kesadaran bahwa generasi sehat harus dipersiapkan sejak jauh hari.
Dari sebuah kegiatan sederhana di Gedung Posyandu RW 05 Ragunan, pesan itu kembali ditegaskan: masa depan generasi berikutnya sedang dipersiapkan sejak hari ini. san/*







