Nungki: Film Harus Punya Jiwa, Bukan Sekadar Hiburan

by
foto dok. nungki kusumastuti
foto dok. nungki kusumastuti

JAKARTA, KONSEPNEWS – Nama Nungki Kusumastuti bukan sekadar identik dengan panggung tari tradisional Jawa. Dalam dua dekade terakhir, kiprahnya menjelma menjadi kekuatan penting di dunia perfilman Indonesia, menghadirkan perspektif budaya yang kuat dan autentik di tengah arus modernisasi industri kreatif.

Berbekal latar belakang akademik yang solid—dari Institut Kesenian Jakarta hingga Universitas Indonesia—Nungki membangun fondasi artistik yang tak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan bahasa visual film. Ia dikenal sebagai sosok yang konsisten menjembatani seni pertunjukan dengan sinema, menghadirkan kedalaman narasi berbasis budaya dalam setiap keterlibatannya.

Dalam sejumlah proyek film dan seni visual, Nungki kerap menempatkan tubuh sebagai medium utama ekspresi, sebuah pendekatan yang berakar dari disiplin tari. Hal ini membuat karya-karyanya memiliki ciri khas kuat: estetika yang puitis sekaligus reflektif terhadap identitas budaya Indonesia.

Tak hanya berkarya, ia juga aktif membentuk ekosistem perfilman melalui dunia pendidikan. Sejak 1987, Nungki mengajar di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta, mencetak generasi baru seniman yang tak sekadar piawai secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran budaya yang mendalam.

Dalam pernyataannya, Nungki menegaskan pentingnya menjaga nilai budaya dalam perkembangan film nasional. “Film bukan sekadar hiburan, tetapi medium refleksi budaya. Kita harus memastikan identitas kita tetap hidup di dalamnya,” ujarnya.

Kiprah panjangnya juga terlihat dari kontribusinya dalam mendirikan Indonesian Dance Festival, yang mempertemukan seniman lokal dengan jaringan internasional. Pengalaman lintas disiplin ini memperkaya perspektifnya dalam melihat film sebagai ruang kolaborasi multidimensi.

Meski dikenal luas di dunia seni dan film, Nungki tetap aktif berbagi gagasan di ruang publik. Salah satunya melalui keikutsertaannya sebagai narasumber dalam diskusi “Ngobrol Santai Bareng Kartini Film, Musik dan Seni 2026” yang digelar Forum Wartawan Hiburan (FORWAN). Namun bagi Nungki, forum semacam ini hanyalah bagian kecil dari komitmennya dalam mendorong literasi budaya.

“Saya senang bisa berbagi pengalaman. Harapannya, diskusi seperti ini bisa membuka perspektif baru, terutama bagi generasi muda yang ingin masuk ke dunia film dan seni,” katanya.

Di tengah industri film yang semakin kompetitif dan global, sosok Nungki Kusumastuti menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar sinema Indonesia justru terletak pada akar budayanya. Konsistensinya menjaga nilai tradisi di dalam medium modern menjadikannya salah satu figur penting yang terus menghidupkan ruh budaya dalam perfilman nasional. san/*

No More Posts Available.

No more pages to load.