KARANGANYAR, KONSEPNEWS – Inovasi program Jaga Inklusi (JAGAIN) yang digagas Kejaksaan Agung RI mendapat sambutan positif dari berbagai pengurus daerah NPC Indonesia. Program ini dinilai mampu menjawab persoalan klasik dalam pembinaan olahraga disabilitas, terutama terkait koordinasi, data, dan dukungan fasilitas.
Ketua NPC Indonesia Jawa Timur, Imam Kuncoro, menyebut kehadiran program tersebut sebagai langkah strategis yang dapat mempercepat kemajuan organisasi dan atlet di daerah.
“Dengan kehadiran narasumber dari Kejaksaan Agung, Kemenpora, dan Kemendagri, tentu sangat menginspirasi kami. Kami berharap regulasi yang disampaikan, terutama dari Pak Reda, bisa membuat NPC seluruh Indonesia semakin besar,” ujar Imam.
Ia bahkan mengusulkan agar Reda Manthovani dapat menjadi bagian dari struktur NPC Indonesia, mengingat kontribusi dan gagasan yang dinilai sangat relevan bagi kemajuan organisasi.
“Kami ingin beliau terlibat langsung dalam keluarga besar NPC Indonesia. Ini penting agar sinergi yang sudah terbangun bisa terus berlanjut,” tambahnya.
Dukungan serupa juga datang dari Ketua NPC Papua Pegunungan, Alex Alua, yang mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari forum rakernas tersebut, terutama terkait pengembangan pembinaan atlet di daerah otonomi baru.
“Saya merasa berterima kasih karena materi yang disampaikan sangat luar biasa. Semoga setelah kembali ke Papua Pegunungan, kami bisa menjalankan program pembinaan sesuai arahan dari rakernas ini,” kata Alex.
Ia juga mengungkapkan tantangan nyata yang dihadapi daerahnya, terutama keterbatasan sarana dan prasarana latihan bagi atlet disabilitas yang sedang berkembang.
“Kami memiliki kendala kekurangan alat latihan. Namun tadi Prof. Reda Manthovani menyampaikan siap membantu peralatan. Ini tentu menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus berlatih dan menyiapkan atlet ke level internasional,” ujarnya.
Program JAGAIN diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara daerah dan pusat, sehingga kebutuhan riil di lapangan dapat segera ditindaklanjuti secara konkret.
Dengan adanya sistem yang terintegrasi dan dukungan lintas sektor, pengembangan olahraga disabilitas Indonesia diproyeksikan akan semakin merata dan kompetitif di masa mendatang.
Ia juga menambahkan bahwa peluang tambahan medali datang dari nomor baru di cabang para bulu tangkis, yang dinilai menjadi kekuatan baru Indonesia dalam kompetisi mendatang. “Sekarang ada nomor ganda baru, combined class 8. Kita cukup kuat di situ,” ujarnya optimistis.
Di sisi lain, perhatian juga diarahkan pada tim sepak bola cerebral palsy Indonesia yang akan tampil di IFCPF World Cup 2026. Ini menjadi momen bersejarah karena Indonesia untuk pertama kalinya lolos ke ajang tersebut.
Indonesia lolos sebagai wakil utama Asia setelah Iran didiskualifikasi, dan akan bersaing bersama negara kuat lainnya, termasuk Australia yang juga menjadi wakil Asia.

Untuk menghadapi turnamen tersebut, NPC Indonesia tengah mengupayakan dukungan sponsor guna memastikan persiapan tim berjalan maksimal, termasuk pemusatan latihan jangka menengah.
“Saat ini kami sedang mencari sponsor. Targetnya minimal persiapan tiga bulan, tapi akan lebih baik jika bisa dimulai lebih awal,” ungkap Rima.
Sementara itu, Kemenpora juga menyoroti pentingnya persiapan jangka panjang menuju Peparnas XVIII 2028 di NTB dan NTT, khususnya dalam pembangunan fasilitas olahraga yang ramah difabel.

“Mudah-mudahan jika dimitigasi sejak awal, tuan rumah bisa memberikan yang terbaik bagi atlet, terutama terkait aksesibilitas,” kata Surono.
Dengan kombinasi strategi pembinaan atlet, dukungan daerah, serta kesiapan infrastruktur, NPC Indonesia optimistis mampu meningkatkan prestasi di panggung internasional dalam waktu dekat. san/*





