JAKARTA, KONSEPNEWS – Komitmen PT Bank DBS Indonesia dalam mewujudkan pemerataan ekonomi diwujudkan secara nyata melalui pilar “Dampak Melampaui Perbankan”. Sepanjang tahun 2025, Bank DBS Indonesia mencatat realisasi penyaluran pembiayaan kumulatif lebih dari Rp1,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui jaringan mitra ekosistem tepercaya, serta mengucurkan pinjaman modal kerja beredar senilai Rp70 miliar khusus untuk memberdayakan sektor UMKM.
Langkah strategis ini mendongkrak Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) Bank DBS Indonesia ke angka 6,97 persen, sebuah pencapaian yang berhasil melampaui tolok ukur internal yang telah ditetapkan. Di samping sektor finansial, perluasan dampak sosial korporasi juga menyentuh aspek kebutuhan dasar dengan menjangkau lebih dari 141.000 individu rentan di berbagai wilayah Indonesia.
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menjelaskan bahwa integrasi aspek sosial dalam pembiayaan merupakan bagian dari cetak biru bank untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih inklusif.
“Dalam menjalankan bisnis, Bank DBS Indonesia tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada dampak positif untuk masa depan. Kami menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG) yang terintegrasi dalam setiap keputusan bisnis. Kinerja ini menegaskan posisi Bank DBS Indonesia dalam sustainability financing dengan menyalurkan pendanaan ke sektor usaha yang berkontribusi pada ekonomi hijau dan inklusif di Indonesia. Hal ini merupakan tonggak penting dalam penguatan pembiayaan Kategori Keuangan Usaha Berkelanjutan (KKUB) dan manifestasi komitmen kami terhadap kesejahteraan nasabah dan masyarakat luas,” urai Lim Chu Chong.
Sejak tahun 2024, Bank DBS Indonesia tercatat telah menyalurkan dana bantuan lebih dari SGD18,2 juta demi menyokong bisnis berdampak sosial (social enterprise) serta organisasi nirlaba. Melalui perpanjangan tangan DBS Foundation, korporasi mengalokasikan dana hibah spesifik sebesar SGD850.000 kepada lima wirausaha sosial dan Business for Impact (BFI) terpilih di tanah air, yakni DoctorTool, Nazava Water Filters, Parongpong RAW Lab, Sosial Business Indonesia, dan KONEKIN.
Selain sektor wirausaha, mitigasi isu sosial perkotaan dan daerah digarap lewat program ‘Impact Beyond Dialogue’ untuk menghadapi transisi masyarakat menua (ageing society). Ada pula program ketahanan pangan FEAST! di Flores, NTT yang melatih 40 kader desa tentang pertanian cerdas iklim, serta gerakan Food Rescue Warrior bersama FoodCycle Indonesia yang sukses mendistribusikan 744.500 porsi makanan dan mengalihkan 425.600 kilogram limbah makanan.
Gerakan ini kian masif berkat kenaikan kerelawanan karyawan sebesar 12 persen secara tahunan, menyumbang 54.800 jam kerja sosial, termasuk melatih soft skill 2.700 siswa SMK dan mahasiswa dalam DBS Foundation Coding Camp bersama Dicoding.
“Dengan dukungan para pemangku kepentingan dan seluruh pendekatan holistik yang kami lakukan dalam memberikan dampak berkelanjutan, kami optimis Bank DBS Indonesia dapat menjadi mitra tepercaya bagi nasabah, karyawan, dan masyarakat luas, sekaligus terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutur Lim Chu Chong. san/*







