KONSEPNEWS – Dunia yang kita huni ini penuh dengan kekayaan dan kemegahan. Dari dalam perut bumi hingga permukaan lautan, limpahan sumber daya alam tersedia untuk dimanfaatkan manusia: emas, perak, batu mulia, minyak, dan berbagai logam berharga.
Data global mencatat bahwa hingga akhir tahun 2024, sekitar 216.265 ton emas telah ditambang dari seluruh penjuru bumi. Jika dikonversi ke dalam nilai uang, tentu jumlahnya mencapai angka fantastis, belum termasuk cadangan yang masih tersimpan di dalam tanah.
Tak hanya itu, estimasi total kekayaan global pada tahun 2025 dalam bentuk mata uang diperkirakan mencapai USD 583 triliun. Angka ini menunjukkan betapa melimpahnya harta yang beredar di dunia.
Maka muncullah sebuah pertanyaan: bagaimana jika semua kekayaan tersebut dimiliki oleh satu orang saja? Sungguh, tak terbayangkan betapa kayanya ia.
Namun, dalam Islam, ukuran kekayaan sejati bukanlah jumlah materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar nilai yang diberikan oleh Allah atas amalan seorang hamba. Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Rakaat salat sunnah fajar (qabliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim no. 725)
Hadis ini seakan mengguncang paradigma manusia tentang kekayaan. Dua rakaat ringan yang dikerjakan sebelum salat Subuh memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah dibandingkan semua harta benda yang pernah dan akan ada di dunia ini. Subhanallah, inilah logika akhirat yang tidak bisa dinalar dengan kalkulasi duniawi.
Al-Qur’an pun menegaskan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang sementara dan penuh tipu daya. Allah berfirman:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling bermegah-megahan antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa dunia tidak layak menjadi tujuan akhir. Ia hanyalah ladang ujian menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Maka, amal salih seperti salat, zikir, sedekah, dan ibadah lainnya jauh lebih bernilai daripada tumpukan emas dan kekayaan materi.
Salat sunnah fajar, meskipun hanya dua rakaat, memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena dikerjakan pada waktu yang penuh keberkahan, yaitu menjelang Subuh. Ia menjadi pembuka hari bagi seorang mukmin, peneguh iman, serta bukti kecintaannya kepada Allah.
Sebagai muslim, kita diajak untuk merefleksikan: apakah kita lebih memilih dunia dengan segala gemerlapnya, ataukah memilih amalan kecil yang nilainya jauh melampaui itu semua di sisi Allah?
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk istiqamah dalam amal ibadah, dan membukakan hati untuk memahami makna kekayaan sejati menurut pandangan Islam. Aamiin. yz





