Icen, Perempuan di Balik Eksperimen Dapur yang Merawat Rasa dan Proses

by

JAKARTA, KONSEPNEWS – Di tengah maraknya konten kuliner yang serba cepat dan instan, Irene Wahyuni Hartono, yang dikenal dengan nama Icen, memilih jalan berbeda. Ia menjadikan dapur sebagai ruang eksplorasi, belajar, dan berbagi, bukan sekadar tempat menghasilkan sajian cantik.

Sejak aktif sebagai kreator konten pada 2018, Icen konsisten mengangkat eksperimen dapur, pastry, hingga jajanan pasar Indonesia dengan pendekatan yang detail dan edukatif.

Bagi Icen, memasak bukan hanya soal mengikuti resep, tetapi memahami bahan, proses, dan kesabaran di balik setiap adonan yang diolah.

Icen di Masterchef season 13

Menariknya, perjalanan Icen di dunia kuliner tidak diawali dari pendidikan memasak. Ia merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra Surabaya.

Latar belakang ini membentuk caranya menyampaikan konten: visual yang rapi, alur yang jelas, dan penjelasan yang mudah dipahami, sebuah pendekatan yang membuat banyak perempuan merasa lebih percaya diri untuk mencoba di dapur.

Sebagai recipe developer dan baking instructor, Icen dikenal gemar membagikan proses apa adanya, termasuk saat eksperimen tidak berjalan sempurna. Ia percaya bahwa kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar, terutama bagi perempuan yang kerap merasa harus “sempurna” saat mencoba hal baru.

Fokusnya pada kuliner Indonesia, khususnya jajanan pasar, juga menjadi bentuk kepedulian terhadap warisan rasa. Icen mengolah resep tradisional dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan identitas aslinya, sebuah cara halus untuk menjaga tradisi tetap hidup dan relevan. “Saya suka kuliner Tanah Air,” ujar Icen di Jakarta, baru-baru ini.

Pada 2025, Icen tampil sebagai salah satu peserta MasterChef Indonesia musim ke-13. Kehadirannya memperlihatkan karakter memasak yang tenang, eksploratif, dan penuh perhitungan, mencerminkan sosok perempuan yang percaya pada proses dan konsistensi.

Lewat dapur dan kontennya, Icen menunjukkan bahwa memasak bisa menjadi ruang ekspresi, kemandirian, dan pembelajaran bagi perempuan, tanpa harus terjebak pada standar instan atau ekspektasi berlebihan. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.