JAKARTA, KONSEPNEWS – Keberhasilan film Sore: Istri dari Masa Depan menembus angka 1,7 juta penonton tidak hanya menjadi capaian bagi rumah produksi, tapi juga simbol kuatnya kolaborasi dalam industri kreatif. Produser Suryana Paramita menyebut proses produksi film ini sebagai perjalanan kolaboratif yang mempertemukan banyak pihak dari berbagai disiplin seni untuk menciptakan karya yang utuh.
Film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini merupakan film panjang keempatnya dan menampilkan kolaborasi keempat antara Sheila Dara Aisha dan Dion Wiyoko. Menurut Suryana, keberhasilan film ini tak lepas dari kerja sama erat antar-pelaku kreatif, termasuk dukungan dari para mitra dan brand yang ikut mendukung keberadaan film tersebut di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya tentang film. Ini adalah gerakan kolektif untuk membangkitkan ekosistem kreatif,” ujar Suryana. Ia berharap kerja sama lintas bidang seperti ini bisa menjadi pola baru dalam produksi film nasional yang berkelanjutan dan inklusif. Peran strategis brand seperti SukkhaCitta, HMNS, dan Artotel Wanderlust juga menjadi bagian penting dalam penyebaran nilai film.
Secara naratif, film ini menyuguhkan kisah cinta lintas waktu yang tidak klise. Sosok Sore hadir secara misterius dan mengklaim sebagai istri dari masa depan. Jonathan yang awalnya skeptis, akhirnya percaya ketika Sore mengungkap berbagai detail hidupnya—bahkan sampai menyentuh isu kematian. Alur yang emosional dan tema tentang cinta tanpa syarat membuat film ini menyentuh banyak penonton.
Sheila Dara Aisha sebagai pemeran utama mengungkapkan bahwa proyek ini sangat personal. “Saya merasa tersentuh oleh bagaimana film ini menggambarkan cinta yang tidak egois. Ini cerita yang dekat dengan banyak orang, tentang memberi kesempatan kedua dalam hidup,” ungkap Sheila. Ia mengaku proses syuting penuh tantangan emosional karena harus menggali nuansa perasaan yang mendalam.
Bahkan, lagu tema “Terbuang dalam Waktu” dari Barasuara menjadi viral dan masuk Top 1 di Chart Spotify Indonesia, menunjukkan kekuatan interkoneksi antara film dan musik. Ini menjadi bukti bahwa film lokal tidak hanya mampu menguasai bioskop, tetapi juga menembus ruang-ruang lain dalam ekosistem budaya populer.
Turut hadir dalam acara nonton bareng adalah Mira Lesmana dari Miles Films, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, serta sejumlah tokoh kementerian dan stakeholder perfilman. Keterlibatan mereka menunjukkan sinyal kuat bahwa perfilman Indonesia kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kreatif nasional.
Dengan pencapaian ini, Sore: Istri dari Masa Depan menjadi contoh bagaimana film Indonesia bisa menjadi penggerak ekonomi kreatif dan ruang refleksi sosial. Tak hanya sebagai tontonan, film ini memberi ruang bagi penonton untuk memahami makna cinta, kehilangan, dan harapan dengan cara yang halus dan menyentuh. san/*





