RIAU, KONSEPNEWS – Ajang Siak Innovation Challenge 2025 tidak hanya melahirkan teknologi pemantauan gambut, tetapi juga dua inovasi lain yang memadukan sains, pangan lokal, dan kearifan budaya dalam satu narasi besar tentang keberlanjutan. Mangalo FortiRice dan konsep wisata aroma Harmoni Aroma Melayu menjadi dua karya yang mendapat penghargaan tertinggi dan memikat perhatian publik karena relevansinya terhadap isu pangan, ekonomi lokal, dan identitas budaya Riau.
Mangalo FortiRice hadir sebagai terobosan pangan berkelanjutan berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang. Tim pengembangnya—Lady Asia, Fahira Anggraini, dan Rahyu Zulaika—menjawab dua persoalan sekaligus: kebutuhan pangan rendah gula serta pemanfaatan limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak bernilai. Melalui pendekatan fortifikasi, kandungan mineral dan antioksidan alami meningkat drastis sehingga menjadikan beras analog ini sebagai opsi sehat dan ramah lingkungan yang berasal dari tanah sendiri.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan alternatif, Mangalo FortiRice memberi harapan bagi petani singkong dan pisang. Limbah bonggol pisang yang sebelumnya terbuang kini menjadi bahan baku bernilai ekonomi. Para pengamat lingkungan memandang inovasi ini sebagai contoh ideal bioekonomi: rantai nilai pangan yang mengangkat martabat komunitas lokal sambil mengurangi jejak ekologis. Dengan dukungan riset lebih lanjut, Mangalo FortiRice diyakini bisa masuk pasar yang lebih luas dan memperkuat ketahanan pangan pedesaan.
Sementara itu, inovasi dari kelompok Archiscape menawarkan pendekatan berbeda melalui konsep wisata aroma bertema Harmoni Aroma Melayu. Remiya Samantha, Doksa Safira Tarigan, dan Melly Erviani menggali kekayaan flora herbal Riau untuk menciptakan pengalaman wisata berbasis aroma yang berakar pada budaya Melayu Siak. Bagi para pemerhati lingkungan, konsep ini menarik karena memadukan pelestarian tanaman herbal, ekowisata, hingga peluang keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi hijau.
Wisata aroma ini mampu mengubah gaya eksplorasi wisatawan: bukan lagi sekadar visual dan foto, melainkan pengalaman multisensori yang menghadirkan pengetahuan etnobotani secara lembut dan imersif. Di dalamnya terdapat peluang bisnis bagi pelaku UMKM untuk menghadirkan produk aromaterapi, minuman herbal, hingga tur edukatif berbasis budaya. Ekowisata seperti ini dinilai menjadi jembatan antara sejarah Melayu dan upaya pelestarian tanaman lokal.
Gerakan lingkungan di Siak tidak berkembang sendiri. Komunitas seperti Haha Hihi Media dan Exploresiak telah lama menjadi motor advokasi kreatif dan media digital yang memperkenalkan Siak sebagai wilayah inovasi berkelanjutan. Sejak lima tahun terakhir mereka aktif menciptakan konten sosial, mendampingi UMKM, hingga menyelenggarakan event bertema keberlanjutan. Mereka berperan menjembatani inovator dengan publik, sehingga narasi hijau Siak semakin mengakar.
SKELAS (Sentra Kreatif Lestari Siak) menjadi ruang penting bagi tumbuhnya inovasi-inovasi tersebut. Sejak 2021, lebih dari 30 pelaku usaha mendapatkan pendampingan intensif melalui program inkubasi bisnis, lokakarya, dan rebranding. Kehadiran SKELAS membuat upaya keberlanjutan tidak hanya bergerak di sektor lingkungan, tetapi juga ekonomi kreatif yang dipimpin oleh anak muda.
Di luar panggung inovasi, beberapa usaha lokal seperti PT Alam Siak Lestari dan Pinaloka menunjukkan bagaimana bioekonomi dapat berjalan dalam skala yang lebih konkret. ASL mengembangkan produk turunan dari ikan gabus, nanas, lebah, hingga komposit pelepah sawit, sementara Pinaloka menonjolkan olahan nanas kelas B dan C sebagai komoditas bernilai tinggi. Mereka menjadi contoh nyata transformasi lingkungan menjadi peluang ekonomi.
Siak sebagai wilayah yang kaya sejarah Melayu dan dikelilingi bentang gambut kini bergerak menuju masa depan yang lebih hijau melalui kolaborasi berbagai pihak. Pemuda, akademisi, pemerintah, UMKM, komunitas, dan pelaku usaha hadir dalam satu lingkaran ekosistem inovasi. Tantangan lingkungan yang kompleks menuntut kerja sama lintas sektor, dan ajang Festival Inovasi Lestari membuktikan bahwa Siak memiliki fondasi kuat untuk membangun masa depan yang tangguh.
Ketika nilai budaya Melayu bertemu semangat inovasi, Siak menghadirkan wajah baru: lebih ekologis, kreatif, dan inklusif. Mangalo FortiRice dan Harmoni Aroma Melayu adalah bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih, tetapi sering kali tumbuh dari kebutuhan lokal, bahan sederhana, dan kecintaan pada lingkungan. Inilah wajah keberlanjutan yang sesungguhnya—tumbuh dari masyarakat, untuk masyarakat, dan bersama menjaga bumi. san/*





