JAKARTA, KONSEPNEWS – Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, diversifikasi investasi menjadi strategi yang semakin relevan bagi masyarakat Indonesia. Menyimpan dana dalam bentuk tunai kini dinilai tidak lagi cukup untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
Head of Investment and Insurance DANA, Ivan Kusuma, menegaskan bahwa menyimpan dana secara berlebihan dalam bentuk kas justru berisiko. “Menumpuk dana dalam bentuk tunai dalam jangka panjang berisiko tergerus inflasi, sehingga nilai riilnya dapat menurun,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat sebaiknya mulai mengalokasikan sebagian dana ke instrumen yang mampu menjaga nilai terhadap inflasi. Salah satu instrumen yang direkomendasikan adalah emas serta Surat Berharga Negara (SBN) yang memiliki tingkat stabilitas relatif tinggi.
Instrumen SBN dinilai menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih terprediksi melalui kupon, sekaligus dijamin oleh pemerintah. Meski tetap dipengaruhi kondisi pasar seperti perubahan suku bunga, SBN dianggap sebagai pilihan aman bagi investor pemula.
Ivan menekankan bahwa pendekatan bertahap lebih penting dibandingkan mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat. “Untuk investor pemula, fokus pada instrumen yang relatif stabil dan membangun portofolio secara bertahap jauh lebih penting dibandingkan mengejar imbal hasil tinggi,” katanya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa investasi obligasi membutuhkan modal besar. Menurutnya, saat ini banyak produk SBN ritel yang bisa diakses mulai dari Rp1 juta, sehingga semakin terbuka bagi masyarakat luas, termasuk generasi muda.
Kemudahan akses ini turut didukung oleh platform digital seperti aplikasi DANA yang memungkinkan pembelian e-SBN secara praktis melalui mitra distribusi resmi pemerintah. Produk yang tersedia pun beragam, mulai dari ORI, SR, SBR hingga ST.
“Dengan dukungan teknologi dan keamanan berlapis, kami ingin membuat investasi jadi lebih mudah diakses dan tidak terasa rumit. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang berani memulai dan membangun stabilitas finansial yang lebih sehat,” tutup Ivan Kusuma. san/*






