BOYOLALI, KONSEPNEWS – Membekali siswa sekolah kejuruan dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri menjadi salah satu upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja. Hal inilah yang dilakukan Bogasari melalui program CSR Pendidikan Bogasari Mengajar di SMK Muhammadiyah 4 Boyolali, Jawa Tengah.
Selama dua hari, Senin-Selasa (2-3 November 2026), siswa dan guru jurusan kuliner mendapatkan pelatihan teori serta praktik pengolahan makanan berbahan dasar tepung terigu. Pelatihan dipandu Imam Nurmansyah, baker dari Bogasari Baking Center (BBC) Semarang.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis membuat produk makanan, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan siswa.
Manajer Pemasaran Bogasari wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Edward Sopaheluwakan, mengatakan bahwa keterampilan kuliner dapat menjadi modal penting bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Ia berharap para peserta tidak hanya memiliki kesiapan untuk bekerja di industri makanan, tetapi juga berani mengembangkan usaha sendiri.
“Semoga melalui dukungan Bogasari Mengajar ini, para siswa tidak hanya tertarik menjadi pekerja tapi juga siap untuk pelaku usaha selepas lulus nanti. Kalaupun mereka lulus SMK mau melanjutkan kuliah, tapi setidaknya lebih siap dan lebih yakin dalam melanjutkan jurusan tata boga di bangku mahasiswa,” kata Edo.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi pembuatan empat produk, yakni Choux Paste, Swiss Roll, Pisang Bolen Bandung, dan Soft Cookies Monster. Selain praktik, siswa juga mendapatkan pengetahuan mengenai bahan baku gandum, proses penggilingan, hingga karakteristik tepung terigu untuk berbagai aplikasi makanan.
Bekal tersebut dinilai penting agar siswa tidak hanya mampu mengikuti resep, tetapi juga memahami proses pengolahan dan karakteristik bahan yang digunakan.

Kepala SMK Muhammadiyah 4 Boyolali, Suprap SPd.MPd, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran tenaga profesional dari industri memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda bagi siswa maupun guru.
Menurut Suprap, ilmu yang diberikan Bogasari menjadi tambahan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam pengembangan pembelajaran jurusan kuliner di sekolah.
Dukungan terhadap pengembangan keterampilan kewirausahaan juga disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri, Shirot Amin. Ia berharap kerja sama dengan Bogasari dapat diperluas melalui program magang bagi siswa maupun guru.
Terlebih, sekolah selama dua tahun terakhir telah mengembangkan produksi kue kering saat Ramadan yang melibatkan ratusan siswa kelas X hingga XII.
“Melalui produksi ini, para siswa tidak hanya belajar pengolahan, tapi juga ilmu pemasaran karena wajib ikut melakukan penjualan. Siswa dapat insentif sesuai jumlah produksi dan penjualan,” jelas Shirot.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan karena siswa terlibat langsung mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
Shirot juga berharap program magang di Bogasari dapat membantu sekolah meningkatkan kualitas dan variasi produk kue kering yang selama ini dikembangkan.
Sementara itu, Edo menambahkan bahwa Bogasari terus berupaya meningkatkan edukasi kepada masyarakat Jawa Tengah untuk mendorong pertumbuhan UKM makanan berbasis terigu.

Salah satu langkahnya adalah mengaktifkan kembali Bogasari Baking Center Semarang yang sempat berhenti beroperasi akibat pandemi Covid-19. Unit pelatihan tersebut kembali dibuka sejak 9 September 2026 dengan kapasitas hingga 20 peserta.
“Kelas pelatihan ini terbuka untuk umum, tidak hanya UKM, ibu-ibu, tapi juga para siswa SD sampai SMA/SMK. Bahkan untuk kalangan mahasiswa yang ingin memperdalam ilmu,” ungkapnya.
Melalui berbagai program edukasi tersebut, Bogasari berharap semakin banyak generasi muda memiliki keterampilan sekaligus keberanian untuk mengembangkan potensi bisnis di bidang kuliner. san/*





