JAKARTA, KONSEPNEWS – Industri asuransi jiwa nasional masih menghadapi tekanan pertumbuhan premi. Data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan premi asuransi jiwa pada kuartal III-2025 sebesar Rp133,22 triliun, dengan sejumlah segmen mengalami perlambatan.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya konektivitas digital masyarakat. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,66% pada 2025. Tingginya tingkat konektivitas tersebut membuka peluang distribusi asuransi berbasis digital.
Melihat potensi ini, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) memperkuat strategi digital melalui platform One by IFG sebagai solusi terintegrasi proteksi dan kesehatan.
Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi, menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan strategi jangka panjang membangun kepercayaan.
“Penetrasi asuransi yang masih rendah menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar sekaligus tantangan bagi industri. Kami melihat digitalisasi sebagai jembatan untuk menghadirkan proteksi yang lebih inklusif, mudah diakses, dan sesuai kebutuhan masyarakat modern,” kata Gatot.
Ia menambahkan bahwa platform One by IFG dirancang tidak hanya sebagai kanal distribusi, tetapi juga sebagai sarana edukasi literasi asuransi.
“Melalui One by IFG, kami ingin masyarakat lebih memahami pentingnya perlindungan jiwa dan kesehatan. Transparansi, kemudahan akses, dan integrasi layanan menjadi kunci agar masyarakat merasa aman dan percaya,” tambahnya.
Hingga akhir 2025, lebih dari 500.000 pengguna telah terdaftar di platform tersebut, dengan ratusan ribu transaksi tercatat. Angka ini menjadi indikator bahwa model ekosistem digital semakin diterima oleh masyarakat.
Dengan kombinasi literasi, inovasi, dan tata kelola yang kuat, industri asuransi diharapkan mampu memperluas perlindungan finansial masyarakat dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. san/*





