JAKARTA, KONSEPNEWS – Meningkatnya kebutuhan global akan efisiensi dan digitalisasi mendorong sektor manufaktur Indonesia untuk bertransformasi menuju industri yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,60 persen (YoY) pada kuartal II 2025, mengungguli pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,12 persen. Capaian ini menunjukkan daya tahan sekaligus potensi besar sektor manufaktur sebagai penggerak utama ekonomi nasional.
Menjawab tren tersebut, PT Mitsubishi Electric Indonesia menggelar seminar bertema “Driving Sustainable Stability by Enhancing Smart Industry 4.0” di Tangerang dan Bandung. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi bagi pelaku industri dari berbagai sektor untuk membahas strategi penguatan sustainability dan implementasi teknologi Smart Industry 4.0 di pabrik-pabrik Indonesia.
Manager Factory Automation Sales PT Mitsubishi Electric Indonesia, Ivan Ferdyan, menjelaskan bahwa transformasi industri harus berfokus pada dua hal: efisiensi energi dan inovasi teknologi. “Penerapan Smart Industry bukan sekadar investasi teknologi, tetapi juga upaya membangun keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan tanggung jawab lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, solusi seperti Energy Monitoring System menjadi kunci dalam menekan konsumsi energi dan menurunkan emisi karbon, sejalan dengan target Indonesia mencapai Net Zero Carbon (NZE) pada 2060. “Dengan pemantauan energi real-time, pabrik dapat mengambil keputusan berbasis data untuk mencapai efisiensi maksimum,” tambahnya.
Untuk mendukung transformasi digital, Mitsubishi Electric menawarkan kerangka kerja SMKL (Smart Manufacturing Kaizen Level) dan solusi terpadu e-F@ctory yang menggabungkan perangkat keras dan perangkat lunak dalam satu sistem cerdas. Teknologi seperti MELSOFT Gemini, MaiLab, dan SCADA GENESIS64 membantu pelaku industri melakukan simulasi, analisis, dan visualisasi data guna meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan.
Pemilihan Tangerang dan Bandung sebagai lokasi seminar mencerminkan pentingnya kedua wilayah tersebut dalam ekosistem manufaktur nasional. Sebagai pusat industri besar, keduanya dianggap strategis untuk mempercepat adopsi teknologi cerdas di lini produksi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari roadshow Mitsubishi Electric Indonesia yang akan berlanjut ke berbagai kota industri lainnya.
Ivan menegaskan bahwa Mitsubishi Electric tidak hanya menjual teknologi, tetapi juga mengedukasi dan mendampingi pelaku industri dalam proses transformasi. “Kami percaya bahwa industri masa depan harus cerdas, hijau, dan berorientasi manusia. Teknologi hanyalah alat; keberlanjutan adalah tujuannya,” tuturnya.
Melalui inisiatif ini, Mitsubishi Electric Indonesia berharap dapat memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Dengan menggabungkan efisiensi, inovasi, dan kesadaran lingkungan, Indonesia diyakini mampu menjadi kekuatan industri hijau di kawasan Asia Tenggara. san/*





