JAKARTA, KONSEPNEWS – Penguatan jejaring dan kemitraan menjadi faktor penentu keberhasilan UMKM kerajinan dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, TB. Chaerul Dwi Sapta, dalam Seminar “Jejaring, Kemitraan, dan Akses Pembiayaan UMKM Kerajinan yang Tangguh dan Berdaya Saing” yang digelar di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Chaerul menjelaskan, keberhasilan UMKM tidak bisa dicapai secara individual, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pemerintah, lembaga pembiayaan, pelaku usaha, dan komunitas kreatif. “UMKM kerajinan tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, pelaku industri, dan komunitas agar tumbuh bersama,” ujarnya.
Dalam paparannya, Chaerul menekankan bahwa jejaring bisnis membuka peluang kolaborasi baru, sementara kemitraan memungkinkan pelaku UMKM memperkuat daya saing, meningkatkan akses pasar, dan memperluas peluang pembiayaan. Sinergi semacam ini, katanya, merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan UMKM tangguh yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Ia juga menyoroti peran strategis pemerintah daerah sebagai penggerak utama ekosistem UMKM di lapangan. Menurutnya, daerah memiliki kemampuan memahami karakter lokal dan potensi produk unggulan yang bisa dikembangkan hingga ke pasar nasional maupun global.
Pemerintah pusat, lanjut Chaerul, mendorong agar seluruh daerah memanfaatkan momentum transformasi digital untuk menghubungkan pelaku usaha kecil dengan ekosistem ekonomi digital. “Kami ingin mendorong agar UMKM kerajinan mampu masuk ke platform digital, memperluas jangkauan pasar, dan mengoptimalkan peluang ekspor,” katanya.
Dengan pendekatan kolaboratif, pemerintah menargetkan 25 persen dari pelaku UMKM digital pada 2029 sudah memiliki kemampuan ekspor. Target ini diharapkan mampu menciptakan efek ganda terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Chaerul menegaskan, kegiatan seperti seminar ini tidak boleh berhenti sebatas diskusi, tetapi harus menjadi ruang untuk melahirkan aksi nyata kolaboratif. “Semoga seminar ini menjadi langkah awal membangun UMKM kerajinan Indonesia yang tangguh, mandiri, dan mendunia,” pungkasnya. san/*






