MAGELANG, KONSEPNEWS – Di kaki Candi Borobudur, sebuah festival akan menjadi ruang perenungan sekaligus perayaan: TRIDAYA Mandala Borobudur 2025. Digelar pada 23–25 Juni, festival ini mengusung integrasi nilai spiritualitas, budaya, dan lingkungan sebagai bentuk aksi kolektif masa kini.
Hari terakhir festival menjadi klimaks yang menghadirkan Festival Karya Tridaya, pawai hasil bumi, serta sendratari yang mengejawantahkan nilai-nilai luhur Borobudur. Di sinilah filosofi mandala menjadi nyata dalam gerak, warna, dan makna.
Pawai hasil bumi dari UMKM lokal menjadi penanda bahwa spiritualitas juga bisa tumbuh dari tanah dan keringat petani. Di sela-sela itu, festival kuliner dari berbagai daerah memperlihatkan keberagaman rasa sebagai warisan budaya yang hidup.
Produk ekologis yang dipamerkan mencerminkan upaya menyatukan inovasi dan kearifan lokal. Para pengrajin memadukan fungsi dan estetika, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keberlanjutan.
Sendratari bertema Borobudur menjadi panggung kontemplasi publik tentang relasi manusia dengan semesta. Pentas ini bukan hanya menampilkan keindahan tari, tapi juga menyampaikan pesan ekologis melalui narasi artistik.
Komunitas dari Jakarta, Labuan Bajo, hingga Danau Toba turut hadir sebagai bentuk solidaritas budaya. Festival ini tidak hanya berskala lokal, tetapi telah menjelma jadi panggung nasional yang menyuarakan keberagaman dalam harmoni.
TRIDAYA Mandala adalah cermin dari kebutuhan akan ruang-ruang kolektif yang menyatukan spiritualitas, seni, dan kesadaran lingkungan. Dalam atmosfer Borobudur yang sakral, festival ini menghadirkan spiritualitas yang aktif dan partisipatif.
Lebih dari sekadar acara seni budaya, TRIDAYA Mandala Borobudur 2025 adalah eksperimen sosial tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan nilai, alam, dan sesamanya dalam harmoni yang tak lekang waktu. san/*







