JAKARTA, KONSEPNEWS – Menjelang gelaran COP30 Iklim di Brasil pekan depan, kelompok aktivis penggemar K-pop yaitu KPOP4PLANET meluncurkan laporan kritis berjudul “Konser K-pop Rendah Karbon: Bernyanyi Bersama untuk Masa Depan Kita”. Laporan ini menyatakan bahwa industri K-pop masih jauh dari praktik konser yang benar-benar berkelanjutan.
Laporan tersebut merupakan bagian dari kampanye K-pop Carbon Hunters, yang terinspirasi dari serial Korea populer. Kampanye ini mendorong industri K-pop global agar praktik konser-nya menjadi “rendah karbon” dan mengadopsi pengurangan emisi yang terukur.
Dalam kerangka evaluasi yang disampaikan, lima perusahaan besar K-pop — CJ ENM, HYBE, JYP Entertainment, SM Entertainment dan YG Entertainment — dinilai terkait kesiapan mereka terhadap konser rendah karbon.
Beberapa catatan menunjukkan: meskipun ada penyebutan soal konser rendah karbon di laporan keberlanjutan, hampir tidak ada tujuan jelas atau kerangka waktu yang spesifik untuk mengurangi emisi konser atau beralih ke energi terbarukan. YG menjadi satu-satunya yang punya komitmen menuju konser berkelanjutan pada 2030.
Seorang penggemar, Jevon Christian, leader fanbase BLINK Official Indonesia, menyatakan bahwa sebagai ambassador dari COP26, grup BLACKPINK seharusnya menjadi contoh. “Kami harap konser berikutnya benar-benar rendah emisi,” katanya.
Laporan ini juga mengutip data bahwa tur dan konser langsung menyumbang sekitar 73% dari total emisi industri musik secara global. Ini sejajar dengan temuan bahwa konser musik berdampak besar terhadap emisi karbon industri hiburan.
Pengamat industri musik menilai bahwa tekanan dari penggemar seperti KPOP4PLANET bisa menjadi katalis perubahan. Namun hingga sekarang, masih banyak tantangan struktural seperti transportasi artis, tur global, venue besar, dan penggunaan energi fosil.
Dengan laporan ini dirilis persis sebelum COP30, penggemar dan aktivis berharap agar industri K-pop lebih serius menyiapkan roadmap rendah karbon. “K-pop punya kekuatan besar, tapi tanpa tindakan nyata, kekuatan itu bisa kehilangan kredibilitas,” ujar Nayeon Kim, juru kampanye KPOP4PLANET di Korea Selatan.
Industri K-pop kini menghadapi momen penting: apakah mereka akan menjadi pionir konser hiburan berkelanjutan atau tertinggal di era perubahan iklim. Laporan ini menjadi panggilan untuk bertindak — bukan sekadar kata, tetapi aksi nyata. san/*





