KOTA SERANG, KONSEPNEWS – Dialog Kebudayaan PWI Pusat dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ajang refleksi atas perjuangan kepala daerah dalam menjaga warisan budaya lokal. Hal ini mengemuka dalam audiensi antara Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan jajaran PWI Pusat menjelang pelaksanaan kegiatan tersebut di Banten.
Direktur Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono mengungkapkan bahwa sepuluh bupati dan wali kota penerima AK PWI 2026 dinilai memiliki komitmen nyata dalam memajukan kebudayaan di daerah. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada proposal tertulis, tetapi juga melalui presentasi langsung di hadapan dewan juri.
Dalam proses presentasi itu, terungkap berbagai tantangan nyata yang dihadapi daerah dalam menjaga kelangsungan budaya lokal. Salah satunya disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun yang mengeluhkan semakin berkurangnya penenun Sarung Samarinda, ikon budaya daerah tersebut.
Merespons kondisi itu, pemerintah kota setempat turun tangan langsung dengan mengembangkan Kampung Tenun sebagai pusat produksi sekaligus ruang regenerasi perajin. Langkah tersebut dinilai sebagai contoh konkret intervensi kebijakan daerah dalam melindungi tradisi yang terancam punah.
Contoh lain datang dari Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bupati Hery Nabit berupaya mempertahankan eksistensi rumah adat mbaru gendang melalui skema kolaborasi pemerintah dan swadaya masyarakat. Sepanjang 2025, sebanyak 92 rumah adat berhasil dibangun dengan pembiayaan gotong royong.
Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan menunjukkan pendekatan berbeda dengan terlibat langsung dalam pelestarian seni kuda lumping. Ia tidak hanya mendukung dari sisi kebijakan, tetapi juga ikut menari dan mendorong kaderisasi pelaku seni agar regenerasi tetap terjaga.
Anggota Dewan Juri AK PWI Pusat Nungki Kusumastuti bahkan meminta pendataan menyeluruh terhadap ekosistem seni kuda lumping, mulai dari penari, pekerja pendukung, hingga UMKM yang terlibat, sebagai bagian dari strategi pelestarian berbasis data.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon pun menegaskan pentingnya peran wartawan budaya untuk mengawal upaya-upaya tersebut. Ia membuka peluang kerja sama dengan PWI dalam pelatihan penulisan seni dan budaya secara hibrida, guna mencetak jurnalis yang kompeten dalam meliput dan menghidupkan ruang kebudayaan di daerah. san/*





