JAKARTA, KONSEPNEWS — Pemantau Kinerja Aparatur Untuk Rakyat (PAKAR) menyoroti penggerebekan narkoba di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/11). Hingga saat ini sejumlah bandar narkoba yang menjadi target operasi justru berhasil melarikan diri.
Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Dadang Hartanto mengakui para bandar tersebut lolos dari sergapan petugas. Meski demikian, ia memastikan polisi telah mengantongi identitas dan mengetahui posisi mereka.
“Untuk yang target (Bandar) memang mereka melarikan diri, tapi kita sudah ada datanya dan posisinya di mana,” kata Komjen Dadang.
Ketua PAKAR Ikhwan Andi Aziz menilai, jika identitas dan posisi bandar sudah diketahui, kepolisian harus segera membuktikannya melalui penangkapan. Jangan sampai informasi mengenai keberadaan target hanya berhenti menjadi data, sementara bandar yang diburu tetap bebas menjalankan bisnisnya.
Ikhwan meminta Polda Metro Jaya mengevaluasi pelaksanaan operasi, terutama menyangkut kerahasiaan rencana penggerebekan. Menurut dia, lolosnya sejumlah target utama patut menjadi bahan pemeriksaan, termasuk kemungkinan adanya informasi yang lebih dahulu diketahui para bandar.
“Kita tidak buru-buru menyimpulkan ada kebocoran informasi. Tetapi kemungkinan itu juga perlu dievaluasi. Bagaimana para bandar bisa melarikan diri sebelum petugas mengamankan sasaran utama? Ini pertanyaan yang harus dijawab agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Ikhwan dalam siaran persnya, Selasa (3/11/26).
Menurutnya, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari pola pemberantasan narkoba di sejumlah kawasan Jakarta yang berulang kali digerebek. Kampung Bahari, Kampung Ambon dan lokasi lainnya berkali-kali menjadi sasaran operasi. Namun, penangkapan yang terlihat justru lebih banyak menyasar pemakai, penjaga lapak dan pengedar eceran. Sementara bandar besar yang mengendalikan peredaran masih sulit dijangkau.
“Jangan sampai penggerebekan hanya menjadi acara rutin. Polisi datang, lapak dibongkar, sejumlah orang ditangkap, kemudian beberapa waktu berikutnya aktivitas narkoba muncul lagi. Kalau polanya terus seperti ini, kapan bandar besarnya ditangkap dan jaringan pemasoknya diputus?” ujarnya.
Karena itu, Ikhwan meminta Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya di bawah pimpinan Kombes Bismo Teguh Prakoso tidak hanya mengandalkan penggerebekan terbuka. Penyelidikan tertutup, penelusuran aliran barang dan uang, serta undercover buy sesuai ketentuan hukum perlu dimaksimalkan untuk menelusuri jaringan dari pengedar lapangan hingga pemasok dan pengendali utamanya.
Di sisi lain, rencana penataan kawasan bantaran rel bersama PT KAI dan Pemprov DKI Jakarta sebagaimana disampaikan Kapolda juga dinilai penting. Namun, penataan kawasan tidak boleh dianggap sebagai jawaban akhir pemberantasan narkoba. Sebab, membongkar lapak transaksi tidak otomatis mematikan jaringan yang memasok barang haram tersebut.
“Kalau jaringan pemasok dan bandarnya masih bebas bergerak, Kampung Bahari bisa saja dibongkar, tetapi lokasi lain akan muncul sebagai pengganti. Bahkan, para pemainnya bisa berpindah tempat. Jadi, yang harus diburu bukan hanya lokasi transaksi, melainkan orang-orang yang menghidupkan bisnis narkoba itu,” tegasnya.
Ikhwan menambahkan, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak semestinya hanya diukur dari jumlah orang yang ditangkap, barang bukti yang disita atau lapak yang diratakan. Ukuran utamanya adalah apakah bandar besar berhasil ditangkap dan jaringan pemasoknya benar-benar diputus.
“Publik tidak hanya menunggu penggerebekan berikutnya. Publik ingin melihat bandar besar yang sudah diketahui identitas dan posisinya benar-benar ditangkap. Jangan sampai polisi berkali-kali menguasai lokasi, tetapi pengendali bisnisnya tetap lolos,” kata Ikhwan.
“Kalau itu yang terjadi, penggerebekan hanya menjadi rutinitas, sementara bisnis narkoba terus berjalan dengan alamat berbeda,” ujarnya. Zan





