JAKARTA, KONSEPNEWS – Diskusi publik FFHoror 2025 membuka perdebatan menarik tentang makna horor dalam film Indonesia, yang selama ini kerap disamakan dengan mistik dan kemunculan hantu. Para pembicara menilai pendekatan tersebut masih mendominasi, meski perlahan mulai muncul eksperimen baru dalam penyajian cerita dan visual.
Aktris senior Nini L Karim menekankan pentingnya membedakan horor sebagai mistik dengan horor sebagai situasi sosial. Menurutnya, rasa ngeri tidak selalu harus bersumber dari dunia gaib. “Horor itu bukan hanya mistik. Situasi juga bisa horor, misalnya ketika pejabat tidak peduli pada rakyatnya. Kita harus bedakan dulu, horor yang mana?” ujarnya.
Pandangan tersebut mendapat respons dari sutradara Ilham Acho Bachtiar atau Atjo, yang menilai film horor tetap menjadi pilihan produser karena kedekatannya dengan kehidupan masyarakat. Ia menyebut penonton cenderung lebih penasaran pada cerita dan sosok hantu dibandingkan nama pemain.
“Coba lihat poster film horor. Yang ditampilkan setannya, bukan pemainnya. Bahkan kadang cuma rumah kosong atau potongan tangan,” kata Acho, menggambarkan strategi pemasaran film horor yang selama ini dianggap paling efektif.
Meski demikian, Acho mengaku mulai melakukan revolusi kecil dalam film terbarunya Kolong Mayiit. Ia menghadirkan sosok pocong yang lebih agresif, dengan cakar, gigitan, dan kemampuan berlari, berbeda dari gambaran pocong lompat yang selama ini melekat di benak penonton.
Sementara itu, sutradara dan produser Agus Riyanto menegaskan bahwa idealisme kreatif tetap harus berdialog dengan kepentingan pasar. Ia menyebut sutradara kerap harus menyiasati berbagai elemen visual agar film tetap menarik secara komersial.
“Yang bisa kita siasati adalah properti film. Misalnya boneka yang ditampilkan harus ‘menjual’, meski sebenarnya tidak tertulis detail di skenario,” ujar Agus.
Menutup diskusi, para pembicara sepakat bahwa film horor Indonesia mungkin belum akan berubah drastis dalam satu dekade ke depan. Mitos dan legenda masih akan mendominasi, namun revolusi kecil diyakini akan terus bergerak.
Dengan agenda bulanan FFHoror dan sistem penilaian film secara rutin, diharapkan diskusi dan evaluasi semacam ini mampu mendorong film horor Indonesia berkembang lebih berani, variatif, dan berkualitas. san/*





